Surya/

Bahu-Membahu Membangun Desa Pancasila

Desa Sarongan di Banyuwangi ini disebut sebagai Desa Pancasila karena masyarakatnya hidup rukun mesti berbeda-beda agama. Yuk kesana...

Bahu-Membahu Membangun Desa Pancasila
surabaya.tribunnews.com/Haorrahman
Kondisi akses jalan di Desa Sarongan yang kini telah mulus dan telah hotmix 

Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, terletak di paling ujung selatan Banyuwangi. Sudah sejak lama bahkan sejak Indonesia merdeka, desa ini tidak tersentuh pembangunan infrastruktur. Kini secara bertahap, infrastruktur mulai jalan dan akses telekomunikasi dibangun di desa yang disebut Desa Pancasila ini.

SURYA.co.id | BANYUWANGI -Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi secara bertahap membangun akses jalan di desa ini. Sedangkan operator Telkomsel, hadir untuk memenuhi kebutuhan telekomunikasi.

Desa Sarongan merupakan salah satu desa terluas di Banyuwangi, dengan luas wilayah 47,04 km persegi. Jarak dari pusat pemerintahan Kota Banyuwangi ke kantor desa ini sekitar 80 kilometer. Untuk menempuhnya dibutuhkan sekitar 2,5 hingga 3 jam. Itu pun bisa lebih lama apabila keterampilan mengemudi kendaraan tidak cukup baik dalam menghadapi jalan yang berliku.

Desa ini dibatasi pegunungan dengan gunung-gunung yang tidak terlalu tinggi seperti Gunung Beteng (222 meter), dan Gunung Gendong (893 meter) di arah utara. Sedangkan di selatan berbatasan langsung dengan Samudra Hindia.

Ada 5.598 penduduk dari 1.472 Kepala Keluarga (KK) di desa ini. Desa ini memiliki potensi ekonami pertanian, perikanan, perdagangan dan usaha kecil rumah tangga. Mayoritas penduduk Desa Sarongan bermata pencaharian di bidang pertanian.

Mohammad Alimaksum, warga Sarongan mengatakan, desa ini telah terbiasa dengan kesederhanaan.

Ali mengatakan, dulu untuk kebutuhan telekomunikasi, masyarakat biasa pakai radio (Orari). Itupun hanya bagi orang-orang dengan ekonomi menengah ke atas.

Ali baru merasakan akses telekomunikasi sekitar tahun 2009, itupun hanya Telkomsel. Saat itu sinyal masih kadang-kadang hilang. Baru sekitar 2012, mulai masuk jaringan Telkomsel 2G.

”Sinyal di sini yang bisa hanya Telkomsel saja. Sekitar dua atau tiga tahun yang lalu, mulai masuk jaringan 3G saya lupa kapan tepatnya,” kata pria berusia 37 tahun itu, pada Surya, Rabu (14/6/2017).

Hal yang sama juga dirasakan oleh Awang Noviandy. Mahasiswa Politeknik Pelayaran Surabaya itu menceritakan, dulu untuk komunikasi masih menggunakan handy talky (HT).

Halaman
1234
Penulis: Haorrahman
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help