Surya/

Citizen Reporter

Belajar Dolanan dan Olahraga Tradisional di Bapetra

dolanan tradisional ini bukan sekadar permainan tempo dulu, setiap gerakannya juga memberikan tekanan menyehatkan bak olahraga ...

Belajar Dolanan dan Olahraga Tradisional di Bapetra
fuat anggrianto/citizen reporter
Wisata bapetra Pasuruan 

Reportase Fuat Anggrianto
Guru  Bahasa Indonesia SMP At Tibyan Pasuruan

                                                                                                        

PEMBUKAAN wisata edukatif Bapetra, Kamis (25/5/2017), di Desa Sumberejo, Pasuruan, yang dipandu Nur Hayati Fadillah, finalis duta Pilinema 2017, dimeriahkan pertunjukkan anak-anak.

“Anak-anak sekarang cenderung lebih menyukai permainan modern, gadget daripada permainan tradisional, kasihan melihat anak sekarang kecil-kecil sudah berkacamata,” kisah Anik Rotul Qariah, pemilik dan pengelola Bapetra.

Berbekal dukungan berbagai pihak, alumnus Universitas Brawijaya Malang itu merintis Bapetra mediao 2013 lalu. Berlokasi di Pandaan, Bapetra tak sekadar fokus pada permainan tradisionala anak, namun juga pada olahraga tradisional dan parenting.

Program wisata Bapetra buka mulai pukul 0.08-16.00 WIB, dari senin hingga minggu menawarkan belajar dan beragam permainan tradisional, mulai dari egrang, hadangan, hulahup, dan lain-lain.

Khusus di hari jumat Bapetra libur karena hari itu dikhususkan untuk sosialisasi dan pembentukan akhlak anak.

Sementara di hari minggu diadakan senam paguyupan dan terapi bagi warga berusia lanjut. Khusus di malam minggu digalakkan permainan sampitan untuk bapak-bapak.

Keriangan anak-anak mencoba permainan tradisional di sana sungguh menularkan kegembiraan bagi yang melihatnya. Ada yang bermain tarik tambang dengan tali tambang, ada yang bermain sandal bakiak. Ada yang asyik menggoyangkan pinggulnya bermain hulahup.

Dan ada yang asyik berjalan kesana kemari dengan egrang, ada yang asyik menggunakan mahkota dari daun pohon nangka, dan masih banyak lagi.

Walaupun kadang kala mereka terjatuh atau berebut dengan temannya, namun mereka tampak menikmati permainan tradisional tersebut yang mungkin baru pertama kali mereka tahu dan mainkan.

Tak mau kalah dengan anak-anak, beberapa bapak yang mencoba permainan tersebut juga terlihat senang walau sudah sedikit kaku memainkannya.

“Permainan tradisional seperti ini bisa mengasah perkembangan psikomotorik anak dalam hal konsentrasi, dan lain-lain,” ujar Bagus, panitia peresmian.

“Ini sekaligus olahraga tradisional yang sudah dilombakan secara internasional. Selain melestarikan budaya, permainan tradisional memiliki banyak manfaat, seperti kinestitikannya, dapat melatih keseimbangan, kelincahan, sehat bugar, dapat menekan angka obesitas anak, dan masih banyak lagi,” imbuh Anik.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help