Surya/

Citizen Reporter

Hikmah dari Teror Bahasa di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

saatnya tak diam dan takut, balik teror dengan cara yang lebih santun dan menyejukkan, yaitu melalui literasi media..

Hikmah dari Teror Bahasa di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
muh bahruddin/citizen reporter
Aksi 'teror' di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 

Reportase Muhammad Bahruddin
Mahasiswa S3 di Universitas Indonesia/Dosen di STIKOM Surabaya

 

TEROR adalah kondisi menakutkan dan mengerikan bagi siapa saja yang mengalaminya. Belakangan, teror tak hanya berupa ancaman yang mengarah pada bahaya fisik dan dilakukan dengan sembunyi-sembunyi sebagaimana yang sering terjadi, tetapi juga berupa bahasa yang tersebar dalam teks.

Dalam kebudayaan kontemporer seperti saat ini, teror bahasa gencar diproduksi media. Terutama media sosial, sehingga informasi-informasi disajikan membuat masyarakat ketakutan, bermusuhan, bahkan menimbulkan kegaduhan sosial dan konflik.

Keprihatinan inilah yang membuat Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta mengambil tema teror bahasa dalam Pekan Apresiasi Sastra dan Drama (pestarama) bersama sastrawan serba bisa, Putu Wijaya.

Tema tentang teror bahasa juga dibahas dalam acara seminar nasional yang menghadirkan tokoh-tokoh nasional seperti kritikus sastra Ignas Kleden, budayawan Radar Panca Dahana, teaterawan Benny Yohanes, dan akademisi Irsyad Ridho.

Selain seminar dan pementasan Putu Wijaya, selama sepekan panitia juga menggelar acara diskusi lintas komunitas sekaligus deklarasi anti-hoax yang dihadiri berbagai kalangan, yaitu akademisi, sastrawan, dan budayawan.

Sebagai puncak apresiasi sastra, panitia menyediakan panggung terbuka untuk umum guna mengekspresikan karya-karya sastra Putu Wijaya dalam bentuk pembacaan puisi, cerpen, monolog, esai, dan teater.

Kurang lebih 300 pujangga, sastrawan, dan teaterawan terdaftar dalam acara pementasan yang digelar 16-22 Mei 2017. Mereka terdiri dari para pelajar, mahasiswa, akademisi, dan masyarakat umum, baik dari dalam maupun luar daerah.

“Apresiasi sastra adalah salah satu cara agar masyarakat lebih peka dan terbiasa bersikap kritis dalam membaca teks,” kata Aida, koordinator acara.

Sementara Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan, Ramadhan, menilai bila masyarakat yang selama ini diam atau ketakutan harus bisa meneror balik dengan cara yang lebih santun dan menyejukkan, yaitu melalui literasi media.

Dalam budaya kontemporer seperti sekarang, masyarakat harus lebih kritis dalam membaca, menulis, dan menganalisis.

“Masyarakat harus menjadi bagian yang mampu mengonter munculnya banyak teror dalam bentuk bahasa melalui media, khususnya media sosial,” tegasnya.

Mahasiswa berbadan dempal ini juga berharap dengan langkah-langkah konkret tersebut, masyarakat akan lebih cerdas dalam bermedia, kritis dalam membaca, serta mampu membuat tulisan yang menyejukkan sehingga mengurangi kegaduhan di media sosial dan meredam konflik di masyarakat. Hal ini juga mengajarkan masyarakat agar tak mudah terpengaruh pada informasi-informasi yang tidak jelas sumbernya.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help