Surya/

Pesona Ramadan

Santri Ponpes Walisongo Membaur dengan Warga

Para santri bersama warga lain bersama-sama mengikuti kegiatan tersebut. Tak kalah, santri putri pun turut melebur bersama ibu-ibu desa.

Santri Ponpes Walisongo Membaur dengan Warga
surya/aflahul abidin
Santri mengaji di teras masjid yang berlantai kayu. 

SURYA.co.id | TUBAN – Para santri Ponpes Walisongo terbuka dengan warga sekitar. Dalam banyak kegiatan, mereka turut membaur bersama warga. Untuk itu, pihak ponpes sengaja tak memasang pagar di lingkungan pondok yang memiliki luas total 7 hektare itu.

Saking luasnya, ponpes tersebut menempati dua wilayah kecamatan. Kebetulan ponpes itu juga berada di area perbatasan yang dipisahkan oleh sebuah kali. Satu wilayah masuk di Desa Lajulor, Kecamatan Singgahan. Masjid satu tiang ada di wilayah ini. Sementara wilayah lain, yaitu Desa Kumpulrejo, Kecamatan Bangilan.

“Ada belasan area,” kata RM Abraham Naja Mangkunegara, salah satu pengurus Ponpes Walisongo yang sekaligus anak ketiga KH Nur Nasroh Hadiningrat kepada Surya.co.id yang berkunjung ke ponpes yang lokasinya berjarak sekitar 44 kilometer (km) dari pusat pemerintahan Kabupaten Tuban itu, akhir pekan lalu.

Naja menjelaskan, jenis pembaruan santri putra dengan warga sekitar terlihat nyata ketika ada kerja bakti di desa.

Para santri bersama warga lain bersama-sama mengikuti kegiatan tersebut. Tak kalah, santri putri pun turut melebur bersama ibu-ibu desa ketika ada acara memasak untuk suatu kegaitan atau jenisnya.

Meleburnya warga dengan masyarakat tak membuat pihak ponpes khawatir. Para santri, kata dia, sudah diberi bekal cukup untuk tidak berbuat buruk saat berhubungan dengan masyarakat.

Saat ini, jumlah total santri di sana sekitar 500 orang. Selain Tuban, banyak juga dari mereka yang datang dari Jakarta, Gresik, Surabaya. Bahkan ada juga yang berasal dari luar pulau seperti Kalimantan dan Sumatera.

“Program kiai tidak memisahkan santri dengan warga setempat. Ngaji jadi satu. Salat di jam-jam tertentu juga bersama, misalnya magrib, isya’, tarawih,” ujarnya. Kini ada sekitar 200 kepala keluarga di wilayah dusun tersebut. Jumlah warga ini jauh lebih banyak ketimbang saat pendirian masjid, yakni hanya 22 kepala keluarga.

Pria yang pernah belajar di sebuah pondok pesantren di Yaman itu menuturkan, pembelajaran di pondok saat ini menyakup banyak hal.

Selain pendidikan agama, ponpes tersebut juga memiliki sekolah menengah kejuruan kehutanan yang berada tak jauh dari kompleks ponpes. (fla/ufi)

Penulis: M Taufik
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help