Surya/

Citizen Reporter

Kopdar Sahabat Pena Nusantara, dari Antologi hingga Karya Mandiri

namanya juga grup kepenulisan yang mensyaratkan anggotanya iuran satu tulisan dalam satu bulan .. jika 2 bulan tak setor iuran, silakan saja keluar!

Kopdar Sahabat Pena Nusantara, dari Antologi hingga Karya Mandiri
m nurroziqi/citizen reporter
Kopdar keempat Sahabat Pena Nusantara 

Reportase M Nurroziqi
Alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya/anggota grup SPN/tinggal di Sugiharjo - Tuban

 

MERAWAT Nusantara (Genius Media-Malang) dan Resolusi Menulis (Akademia Pustaka-Tulungagung), dua buku antologi yang dilaunching saat kopi darat (kopdar) keempat grup Sahabat Pena Nusantara (SPN), Minggu (21/5/2017) lalu di ITS Surabaya. 

Digelar di gedung Rektorat ITS Surabaya, kopdar dibuka Prof Ir Joni Hermana MSc ES PhD, Rektor ITS yang mengapresiasi kegiatan literasi SPN.

Setelahnya, peserta saling bertukar karya. Yakni, buku karya rektor ITS Surabaya dengan karya antologi grup SPN yang diwakili oleh M Husnaini, Ketua Umum SPN.

Di setiap kopdar, SPN paling istiqomah dalam menerbitkan karya berupa buku. Hal ini berkat ketatnya aturan, yakni anggota wajib setor satu tulisan setiap bulan dengan berbagai tema yang sudah ditentukan di awal bulan.

Ya, setor tulisan itulah iuran bulanan keanggotaan. Sanksi bagi anggota yang selama dua bulan berturut-turut tak setor tulisan adalah harus keluar dari grup. Tak heran jika grup SPN sangat produktif dalam karya antologi.

Hebatnya, ternyata karya antologi ini mampu menumbuhkan gairah berlebih di dalam berkarya mandiri. Pantas saja jika saat kopdar ada 12 anggota SPN yang sudah menelurkan karya buku mandiri yang dilaunching  bersamaan. Luar biasa. Karya antologi menjadi penambah tingkat percaya diri bagi penulis pemula.

"Dua orang penakut, jika bersatu akan menjadi dua orang pemberani," begitu kata penyemangat Much Khoiri ketika mengulas materi menulis di hadapan peserta Kopdar.

Jika belum percaya diri mempublikasikan karyanya, menulis bersama dalam karya antologi adalah solusinya. Dosen Universitas Negeri Surabaya yang produktif berkarya buku itu, sungguh memotivasi semangat untuk menulis.

Menulis Buku untuk Warisan: Jangan Mati sebelum Menulis Buku menjadi tema yang digelorakannya. Penuh jenaka. Menjadikan peserta kopdar kembali fresh untuk memperdalam ilmu menulisnya.

Sebelumnya, ada Hernowo yang berulangkali mendemokan free writing sebagai metode andalannya dalam menuangkan pikiran. Dan model menulis mengalir bebas ini jika terus menerus dibiasakan, akan semakin menumbuhkan kenyamanan, juga melejitkan kemampuan menulis.

Di awal kopdar, Dr Ngainun Naim, mengulas beragam hal seputar menyunting naskah. Menurutnya, menyunting itu bagian terakhir dari aktivitas menulis. Yakni, pemeriksaan kembali secara teliti atas tulisan demi meminimalisir kesalahan yang ada.

Kopdar keempat grup SPN yang digelar sejak pukul 07.30 hingga 17.00 WIB itu sungguh meriah dengan kehadiran peserta terbanyak dari sebelumnya, selain masyarakat umum di luar anggota SPN.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help