Surya/

PPDB SMA dan SMK

Keketatan Masuk SMA/SMK di Surabaya Tahun ini Dipastikan Makin Tinggi, ternyata ini Alasannya

Padahal, padahal tahun lalu SMA/SMK di Kota Surabaya rata-rata menerima 38 anak dalam satu rombel. Kini dikurangi menjadi 36 anak per kelas.

Keketatan Masuk SMA/SMK di Surabaya Tahun ini Dipastikan Makin Tinggi, ternyata ini Alasannya
surya/sulvi sofiana
Petugas melayani orangtua yang mendaftarkan anaknya di pendaftaran jalur prestasi. 

SURYA.co.id | SURABAYA – Keketatan masuk SMA/SMK Negeri di Kota Surabaya semakin tinggi. Lantaran, penetapan pagu tahun ini kembali disesuaikan dengan aturan pemerintah pusat, yaitu 36 anak dalam satu rombongan belajar (rombel).

Padahal, padahal tahun lalu SMA/SMK di Kota Surabaya rata-rata menerima 38 anak dalam satu rombel.

Selain itu, kuota untuk jalur khusus seperti siswa tidak mampu yang awalnya hanya melalui jalur mitra warga sebanyak 5 persen, kini menjadi 8 persen melalui mitra warga dan bidikmisi.

Bagi pendaftar SMA harus dikurangi lagi dengan kuota luar kota sebesar 10 persen sebelum ditetapkan kuota jalur umum.

Wakil Kepala SMAN 1 Kota Surabaya urusan Kurikulum Arie Suprapto menjelaskan, berbagai perbedaan atura pengelolaan SMA di provinsi belum bisa diprediksi dampaknya pada pendaftar SMA ditempatnya. Namun, ia memastikan jumlah kuota secara umum berkurang.

“Jumlah pagu masih diajukan, sebanyak jumlah rombel yang kami luluskan yaitu 7 kelas. Tetapi jumlahya beda, kalau yang lulus itu isinya 38 anak satu kelasnya, sekarang pengajuannya ikut aturan 36 anak dalam sekelas,” ungkap pria yang juga guru kimia ini ketika dikonfirmasi SURYA.co.id, Minggu (4/6/2017).

Keketatan masuk SMA, lanjutnya juga akan meningkat karena tidak adanya Tes Potensi Akademik untuk masuk sekolahnya yang merupakan sekolah kawasan. Menurutnya, siswa harus memantau perkembangan online saat sudah mendaftar, sebab penilaian masuk SMA hanya berdasarkan NUN.

“Persiapan PPDB sudah mulai, Senin (5/6/2017) sudah bisa mengambil PIN di sekolah terdekat. Kami juga menyediakan jika ada lulusan SMP yang mau meminta PIN untuk mencoba simulasi online,” lanjutnya.

Untuk mendapatkan PIN pendaftaran online, dikatakannya wali murid atau siswa pendaftar harus membawa kartu keluarga asli beserta foto kopiannya, SKHUN (Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional) dan kartu tanda siswa. Kelengkapan itu dibuthkan untuk proses validasi data.

Sedang untuk pendaftar SMK harus bersaing langsung dengan siswa luar kota tanpa batasa kuota dengan mengandalkan NUN. Kepala SMKN 2, Djoko Pratmodjo menjelaskan, tahun ini sekolahnya mengajukan pagu untuk 29 rombel, yaitu 1.044. Sedangkan tahun lalu pihaknya mengajukan 1.102 siswa untuk 29 rombel.

“Memang berkurang, tapi saya rasa tidak akan ada keketatan yang berarti. Karena peminat SMK tidak seperti SMA,” jelasnya.

Menurutnya, SMK dengan jurusan yang umum seperti di SMKN 2 Surabaya tidak akan banyak mendapat serbuan siswa luar kota. Bahkan tahun lalu, kuota 1 persen siswa luar kota yaitu 10 anak diminati hanya 20 siswa.

“Kalau siswa luar kota biasanya Mojokerto atau Gresik yang orang tuanya kerja di Surabaya,” lanjutnya.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help