Surya/

Citizen Reporter

Sensasi Senja di Kondang Merak

wajah dan suasana pantai di mana saja bisa jadi sama dan seragam ... namun saat senja tiba perbedaan itu barulah membagikan sensasinya ..

Sensasi Senja di Kondang Merak
ruspeni daesusi/citizen reporter
Kondang Merak 

Reportase Ruspeni Daesusi
Dosen Pendidikan Biologi Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surabaya

CUKUP menguras usaha juga untuk menjangkau pantai Kondang Merak, pantai di Kecamatan Bantul, Kabupaten Malang ini.

Akhir April 2017 siang itu, suguhan alami semak belukar menghijau di kanan kiri jalan, agak terabaikan. Rombongan tim pembimbing lapang dari prodi pendidikan biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Surabaya terpaksa fokus  ke depan.

Mobil bergoyang-goyang tanda medan penuh rintangan. Bongkahan batu di sepanjang jalan utama, dengan kontur menanjak berganti menurun, menyebabkan perjalanan tertempuh selama kurang lebih satu jam

Sesekali kami menahan napas, tatkala tampak tanah bercampur sisa-sisa hujan menghadang perjalanan. Komposisi tekstur jalan bagai adonan bumbu pecel, mengharuskan ekstra waspada.

Bagi pemotor yang belum kenal medan, dilarang sok nantang karena dijamin selip jika sembrono pada beberapa ruas berbumbu pecel ini. Apalagi jika berpapasan dengan kendaraan dari arah berlawanan. Jika salah ambil jalan, roda kendaraan hanya bisa berputar-putar dengan mesin meraung-raung saja, tanpa ada daya bergerak, alias terperangkap lumpur.

Mobil pembawa kami memang bukan spesialis petualang. Walhasil, mobil kota standar ini akhirnya lolos dari ujian. Jalanan mulai landai. Nyiur melambai, ombak berderai, bebatuan besar menjulang semampai, pertanda kita telah sampai.

Adzan ashar usai berkumandang. Matahari  masih  garang membagikan energi gelombang. Mestinya panas terasa karena tak ada penghalang. Namun hembusan angin laut menyibak sengatan hingga berganti dengan kesejukan.

Pekerjaan penelusuran biodiversitas dan kehidupan hewan invertebra dan tumbuhan rendah oleh mahasiswa siap dilaksanakan. Tapi tunggu dulu. Tubuh harus dibekali dengan energi. Sate tuna, oseng gurita, gulai kepala ikan, bersama pelengkap lain, menanti dibereskan.

Ombak makin menjauh dari bibir pantai. Menyilakan kaki bermain dengan pasir putih lembut seraya menjumput sisa-sisa molusca dengan berbagai ragam bentuk dan warna aduhai. Air surut perlahan. Ketinggiannya sedikit di atas mata kaki hingga 600 meter ke arah tengah laut.

Saatnya merasakan kecipak-kecipuk air pantai. Berjalan di antara karang tanpa luka, tentu dengan alas kaki kuat. Berbagai ornamen koral terhias indah.

Terjadi saling intip antara kami dengan biota. Kami menelusur mereka, di bawah karang di antara ganggang. Mereka berlari dan bersembunyi. Sensasi sore yang tak biasa.  Semua milikNya, karena kekuasaanNya.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help