Surya/

Lapor Cak

Sebulan, Antrean Air PDAM di Masjid Semakin Banyak

Pemandangan seperti ini terlihat sepanjang tahun di wilayah tersebut. Bahkan antrean kian lama sebulan terakhir.

Sebulan, Antrean Air PDAM di Masjid Semakin Banyak
surya/achmad zaimul haq
Warga mengisi air di Masjid Darusssalam kawasan Wonokusumo Semampir. 

SURYA.co.id | SURABAYA – Puluhan jeriken air beserta gerobaknya berjejer di halaman masjid Darussalam. Tepatnya di gang Garuda Kelurahan Wonokusumo Kecamatan Semampir. Warga bergantian menjaga aliran air PDAM dari sumber masjid agar tertampung pada jeriken-jeriken dalam gerobak.

Pemandangan seperti ini terlihat sepanjang tahun di wilayah tersebut. Bahkan antrean kian lama sebulan terakhir. Sejumlah warga yang biasanya mendapatkan aliran PDAM, sudah mulai mengambil air bergiliran di masjid tersebut mulai sepanjang hari, mulai pagi hingga malam. Bahakn dini hari saat keran air PDAM tersebut mengalirkan air bersih kembali.

Mahfud Sidiq, warga Jalan Wonokusumo gang 3, Kelurahan Wonokusumo, Kecamatan Semampir mengungkapkan dirinya memakai air PDAM selama 10 tahun terakhir air di rumahnya tidak mengalir. Pria yang tinggal sejak tahun 1960-an di kawasan tersebut juga kerap mengantre air di masjid gang Garuda.

“Mulai tahun ini tidak lancar keluarnya, sering tiba-tiba tidak mengalir sampai 6 hari tanpa pemberitahuan. Beda kalau memang ada galian dan pemberitahuan kemudian air nggak keluar atau keruh saya masih wajar,” jelasnya ketika ditemui SURYA.co.id, Selasa (30/5/2017).

Untuk mengambil air tersebut, gerobak dan jeriken telah disiapkan pengelola air. Setidaknya ada 5 gerobak berisi masing-masing 16 jeriken kecil. Untuk satu gerobak air dihargai Rp 3.000. Sehingga dirinya bisa meminjam dan mengembalikannya usai mengantre. Sidiq, sapaan akrabnya mengaku biasanya istrinya yang mengantre dan mengambil air.

“Sehari bisa dua kali ambil dulu, ya untuk mandi dan masak. Berat itu (gerobak dan air), apalagi dari masjid ke rumah saya lewat gang kecil yang menanjak,” lanjutnya.

Untuk mengurangi penggunaan air PDAM, Sidiq akhirnya dua minggu lalu memutuskan membuat sumur bor. Beruntung, sumur yang ia buat airnya tidak asin dan bau seperti mayoritas sumur bor yang dibuat di kawasan tersebut. Sehingga ia bisa menggunakan sumur itu untuk aktivitas sehari-hari selain masak dan minum.

“Ini sudah hampir sebulan tidak keluar, warga antri sampai tidur di masjid. Kalau saya nggak bikin sumur bor, sebulan bisa habis Rp 180 ribu untuk masak dan minum saja. Kalau mau sama mandi ya habis lebih banyak lagi,” lanjutnya.

Hal serupa dialami Dahima (66), warga gang Garuda 2 ini juga harus mengantri sebulan terakhir karena air PDAM tidak lagi mengalir di rumahnya. Di usia lanjutnya, ia harus membawa gerobak air sendiri untuk berhemat.

“Saya nggak punya sumur jadi empat kali ambil dalam sehari,” jelasnya.

Karena banyaknya warga yang mengantre, antrean pukul 11 malam biasanya warga mendapat giliran membawa gerobak pada jam 5 pagi. Hal ini terus berlangsung dan membuat warga terbiasa mengantre tanpa kartu antrean.

Sementara Yanti (20), gadis yang tinggal di gang Garuda mengungkapkan PDAM di tempatnya bahkan selama setahun tidak mengalir.

”Akhirnya nggak saya bayar sekalian. Tapi ya begini, ambil air bisa antri dari jam 11 malam. Kalau dipakai nyuci sampai 3 kali ambil,” lanjutnya.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help