Grahadi

Pemprov Jatim

Pakde Karwo Raih Penghargaan Tokoh Bidang Pengembangan Keuangan Syariah

Penghargaan ini diberikan atas peran dan jasa Pakde Karwo menginisiasi pendirian koperasi syariah wanita sebanyak 3.500 koperasi di tingkat desa.

Pakde Karwo Raih Penghargaan Tokoh Bidang Pengembangan Keuangan Syariah
foto: Humas Pemprov Jatim
SYARIAH – Gubernur Soekarwo menerima penghargaan sebagai tokoh pendorong akselerasi pertumbuhan keuangan syariah dari Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman Darmansyah Hadad, di Hotel Shangri-La Surabaya, Selasa (30/5/2017). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Gubernur Jatim Dr H Soekarwo kembali meraih penghargaan. Kali ini, Pakde Karwo meraih penghargaan sebagai tokoh bidang pengembangan keuangan syariah kategori pendorong akselerasi pertumbuhan keuangan syariah dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Penghargaan diserahkan oleh Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman Darmansyah Hadad, saat acara Grand Launching Program Akses Keuangan Syariah untuk Masyarakat Mandiri Berbasis Masjid (AKSI UMMAD), di Hotel Shangri-La Surabaya, Selasa (30/5/2017).

Penghargaan ini diberikan atas peran dan jasa Pakde Karwo menginisiasi pendirian koperasi syariah wanita sebanyak 3.500 koperasi di tingkat desa. Keberadaan koperasi ini mampu meningkatkan akses keuangan syariah bagi masyarakat kecil. Selain itu, Pakde dipandang terus berperan dalam mendorong spin off unit usaha syariah Bank Jatim.

Dalam sambutannya, Pakde Karwo menjelaskan bahwa dalam tiga tahun terakhir ini kondisi penerimaan negara stagnan.

Hal ini tergambar dari realisasi pajak pemerintah pusat pada 2015 dan 2016 mengalami defisit, yaitu tahun 2015 sebesar Rp 239 triliun dan 2016 Rp 250 triliun.

Kondisi ini juga terjadi di Jatim, di mana selama tiga tahun terakhir Pendapatan Asli Daerah (PAD) stagnan pada posisi sekitar Rp 14 triliun.

Untuk itu, keuangan syariah sangat dibutuhkan karena Jatim digerakkan oleh uang yang ada di masyarakat. Di mana, masyarakat Jatim yang menyimpan uang di bank hanya sebesar Rp 46 triliun, dari total Rp 501 triliun yang beredar di masyarakat. Sisanya, ada sekitar Rp 327 triliun uang masyarakat yang tak masuk ke perbankan.

Dengan kondisi ini, Pakde Karwo mendorong agar masyarakat terutama di pondok pesantren, agar menyalurkan uangnya melalui lembaga keuangan mikro syariah seperti Baitul Maal wat Tamwil (BMT) untuk kemudian dijembatani ke industri jasa keuangan.

Salah satunya dengan adanya 500 paket masing-masing sebesar Rp 25 juta dalam setahun untuk majelis taklim atau hibah fungsional untuk membangun jasa keuangan di daerah pinggir.

“Ini dilakukan agar uang masyarakat jadi usaha yang produktif. Kalau disimpan di bantal saja kan menjadi konsumsi, untuk beli motor dan sebagainya,” terangnya.

Halaman
123
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved