Surya/

Berita Probolinggo

Jelang Musim Kemarau, BPBD Prediksi 33 Desa di Probolinggo Rawan Kekeringan

Dari hasil pendataan sementara, ada 33 desa di 13 Kecamatan yang rawan kekeringan saat musim kemarau.

Jelang Musim Kemarau, BPBD Prediksi 33 Desa di Probolinggo Rawan Kekeringan
surya/galih lintar
BPBD Kabupaten Probolinggo distribusikan air bersih beberapa waktu lalu. 

SURYA.co.id | PROBOLINGGO - Sedia payung sebelum hujan. Setidaknya itulah yang dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo jelang musim kemarau.

Saat ini, BPBD Kabupaten Probolinggo sedang melakukan pendataan di daerah rawan kekeringan.

Selanjutnya, akan dilakukan pemetaan terhadap kawasan rawan kekeringan tersebut.

Dari hasil pendataan sementara, ada 33 desa di 13 Kecamatan yang rawan kekeringan saat musim kemarau.

Desa di Kabupaten Probolinggo yang masuk dalam kategori rawan kekeringan itu meliputi Kecamatan Tegalsiwalan, Banyuanyar, Kuripan, Bantaran, Leces, Lumbang, Tongas, Wonomerto, Sumberasih, Tiris, Sumber, Gading dan Krucil.

Namun, tidak semua dusun dan desa di 13 kecamatan tersebut dilanda kekeringan.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo Nanang Trijoko Suhartono, mengatakan, pemetaan kawasan rawan kekeringan ini memang sengaja dilakukan sejak dini.

Tujuannya, agar nanti saat musim kemarau tiba, pihaknya tidak kebingungan mencari daerah yang kekeringan.

"Jadi saat sudah memasuki musim kemarau, kami tinggal mengeksekusinya saja. Tinggal distribusi bantuan air bersih, dan sebagainya. Peta rawan kekeringan ini sangat bermanfaat sekali," katanya kepada SURYA.co.id, Jumat (19/5/2017).

Selain memetakan daerah rawan itu, kata dia, pihaknya juga menyiagakan armada tangki air untuk pendistribusian air bersih di daerah krisis.

Distribusi air bersih ini merupakan jangka pendek. Jangka panjangnya adalah menyiapkan tandon air untuk menyalurkan air bersih di setiap desa.

"Kami sedang berupaya menggalakkan konservasi dengan cara menjaga dan melestarikan sumber mata air sekaligus melakukan reboisasi hutan yang gundul," tandasnya.

Nanang mengharapkan kepada masyarakat agar bantuan air bersih yang diterima ini digunakan dengan bijak dan benar.

“Kepada tokoh masyarakat mohon mencari potensi-potensi yang ada di desa. Jika ada sumber mata air, maka secara swadaya segera melakukan upaya pemanfaatan potensi yang ada untuk kepentingan masyarakat," pungkasnya.

Penulis: Galih Lintartika
Editor: Titis Jati Permata
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help