Surya/

Profil

Debby Berlina: Perlakukan Sebagai Teman

“Yang rutin tiap Minggu itu di CFD. Kalau terima pesanan dalam jumlah besar tetap saya layani tetapi hanya di hari Sabtu-Minggu.”

Debby Berlina: Perlakukan Sebagai Teman
surya/ahmad pramudito
Debby Berlina 

SURYA.co.id | SURABAYA - “Jangan anggap konsumen hanya sebagai pembeli. Upayakan bisa lebih dekat dengan mereka sehingga nantinya mereka akan merasa ‘terikat’ dan kembali memesan menu yang diinginkan.”

Begitu pesan Debby Berlina mengenai bisnis kuliner yang dia jalani selama dua tahun belakangan. Bungsu dari dua bersaudara ini bersama seorang pembantu menyiapkan menu nasi kuning yang dia jajakan setiap hari Minggu di area Car Free Day (CFD).

“Yang rutin tiap Minggu itu di CFD. Kalau terima pesanan dalam jumlah besar tetap saya layani tetapi hanya di hari Sabtu-Minggu,” katanya.

Perempuan kelahiran Surabaya, 7 Mei 1982 ini mengaku masih belum bisa maksimal melayani permintaan konsumen karena masih prioritas pada pekerjaan utamanya sebagai Public Relation Manager The Alana Hotel Surabaya. “Biasanya ada pesanan untuk acara-acara perusahaan atau teman yang adakan acara selamatan,” tuturnya.

Debby mengaku tidak bisa maksimal menggeluti bisnis kuliner ini karena semuanya masih ditangani sendiri, mulai mencari order hingga proses memasak, pengepakan makanan, dan menjajakannya di area CFD atau juga saat ada pesananan dari perusahaan tertentu. “Dibantu satu orang itu kurang. Jadi kendalanya di SDM (sumber daya manusia),” imbuhnya.

Agar menu yang disajikan enak, Debby sudah menyiapkan masakannya sejak hari Jumat. “Agar rasanya empuk dan enak memang nggak bisa dimasak mendadak,” ungkapnya.

Pada hari Minggu, Debby dan pembantunya sudah berangkat dari rumah pukul 04.00 dan siap di lokasi CFD pukul 05.00.

“Kalau siang sedikit tempatnya sudah diserobot orang lain, jadi memang harus siap sepagi mungkin,” ucapnya.

Menu nasi kuning dengan tambahan lauk perkedel, ayam, kering tempe, sambal goreng kentang, potongan telor, dan ikan teri itu dia banderol harganya Rp 15.000/bungkus. Biasanya Debby membawa sekitar 50 bungkus setiap hari.

“Maksimal pukul 08.00 sudah habis. Kalau pun lagi sepi pembeli paling sisa satu atau dua bungkus, biasanya aku kasihkan ke tukang parkir, ya hitung-hitung bagi rejeki juga,” tuturnya.

Debby mengaku selalu mencari masukan dari konsumen untuk bahan koreksi dirinya.

“Biasanya saya dampingi pembeli sambil tanya-tanya apa yang kurang dari menu yang barusan dia beli dari saya. Saya bahkan sudah menyiapkan lembaran kertas untuk dia tulis jika ada saran,” tegasnya.

Sikapnya itu justru membuat dirinya dan konsumen jadi dekat dan bukan tak mungkin satu saat ada permintaan secara khusus bila konsumen itu sedang punya hajatan.

“Saya memang tak pernah memperlakukan konsumen hanya sebagai pembeli. Sebisa mungkin saya perlakukan sebagai teman,” begitu tandasnya.

Penulis: Achmad Pramudito
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help