Surya/

Testimoni Cipoer

Memori Reportase 350 Kata ala Citizen Reporter

untuk pertamakalinya saya bisa mengetik menggunakan word (MS Word) namun bingung untuk mengetahui jumlah kata-kata yang sudah saya muntahkan, maka...

Memori Reportase 350 Kata ala Citizen Reporter
pixabay
ilustrasi 

Testimoni Fauzi Baim
Pegiat literasi/pengelola taman baca/penjual jamu keliling di Sidoarjo

 DI TENGAH setumpuk aktivitas memperingati Hari Buku se dunia, akhir April 2017 lalu bersama anak-anak PAUD dan TK di sekolah gratis yang saya inisiasi, saya ingin berbagi kisahnya ke Citizen Reporter (Cipo) Harian Surya. Ah sayang, sudah lima hari ini Telkom ngadat dan belum ada perbaikan.

Handphone jadul saya juga tak bisa diajak kerja sama. Situasi ini membawa memori saat pertama kali mengirim reportase ke Cipo. Jujur, saya tak paham word (MS Word). Komputer saja baru bisa pegang dan hanya bisa googling, serta menghidupkan dan mematikan PC.

Saya mengenal Cipo dari koran yang disediakan warkop tempat saya biasa ngopi. Dari situ saya amati, ini wartawannya kok setiap hari beda beda. Maklum, belum ngeh apa itu Citizen Reporter.

Dari pengamatan itu, akhirnya saya membeli koran Surya selama satu minggu. Lalu saya googling cara mengirim tulisan ke Koran Surya. Dari salah satu artikel yang saya baca di web, ada keterangan di antaranya liputan dikirimkan dalam format word, ditulis maksimal 350 kata, dilampiri foto penulis, foto kegiatan atau liputan, dan data diri. Lalu dikirimkan ke email Harian Surya.

Saya googling lagi apa itu word. Konyolnya ternyata di komputer sudah ada, jadi percuma saya unduh. Lalu saya buka word dan inilah pertamakalinya saya mengetik. Saking semangatnya saya lupa aturan maksimal 350 kata.

Saya bingung dan googling lagi, tapi tidak menemukan konten yang pas. Akhirnya saya hitung saja tulisan para Cipoer yang saya kumpulkan itu dan ternyata ketikannya memang tak ada yang lebih dari 350 kata.

Lalu saya hitung ketikan saya di monitor yang ternyata hampir 500 kata. Wah harus dihapus ini dari pada nanti tidak diterima redaksi. Hapus, hitung, hapus, hitung hingga tersisa kurang dari 350 kata.

Itulah pertamakalinya saya kenal word, dan ternyata karakter itu ada di bawah word account atau word, ada angka di pojok bawah.

Begitulah saya mengenal Cipo dan belajar dari para penulisnya semua. Jadi, jangankan kaidah jurnalistik, Word saja saya ndak mudeng. Maklum sajalah, penjual jamu yang gaptek dan tak berpendidikan.

Dan, tahukah Anda selepas mengirim tulisan melalui email, setiap hari saya membeli koran, berharap tulisan saya dimuat.

Sekitar seminggu kemudian tulisan saya naik cetak. Sumpah, hati saya langsung berbunga-bunga bagaikan diajak menikah. Saat itu saya tengah berjualan jamu, tapi memutuskan langsung buru-buru pulang dan mengabarkan kepada istri saya. "Diiiik iki loh melbu koran... horeee... Pokok'e seneng banget!

Itu sekelumit cerita orang otodidak menulis. Terima kasih untuk teman-teman Cipo, karena tulisan dan karya Anda telah menginspirasi saya.

Selamat merayakan Hari Buku se-dunia. Terima kasih sudah membaca, tinggalkan jejak di komentar jika ingin tertawa atau tersenyum.

Salam literasi.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help