Surya/

Citizen Reporter

Jurus Mudah Menjadi Editor ala MediaGuru

sepertinya menjadi editor itu profesi yang enak dan bergengsi ... ternyata butuh keahlian khusus untuk menaklukkan tulisan ...

Jurus Mudah Menjadi Editor ala MediaGuru
pixabay
ilustrasi 

Reportase KHOIRUN NISAK
Pengajar di SD UPT TPI Gedangan, Sidoarjo

TERIKNYA matahari tak lantas menyurutkan langkah 80 orang untuk melaju ke Pusat Bahasa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) guna menghadiri kelas menulis editor yang dihelat MediaGuru, Sabtu-Minggu (6-7/5/2017).

Mochammad Ihsan, CEO MediaGuru, mewartakan bila naskah buku para guru yang masuk ke redaksi dan siap bergabung dalam gebyar literasi pada 20 Mei nanti, ada sekitar 450 naskah, dan kemungkinan masih akan bertambah.

MediaGuru bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan mengadakan gebyar literasi nasional, pada 20-21 Mei 2017. Semua buku guru hasil terbitan MediaGuru akan dipamerkan di acara tersebut.

Ihsan menambahkan bila editor MediaGuru kewalahan menangani semua naskah para guru. Oleh karena itu, beberapa peserta dari kelas editor inilah yang akan direkrut untuk membantu tugas editor MediaGuru.

Narasumber dalam kegiatan ini tak lain adalah Eko Prasetyo, Pemimpin Redaksi MediaGuru.

“Kegagalan yang pasti bagi seorang editor pemula, ialah langsung menyentuh naskah dan mengeditnya kata demi kata. Mereka melupakan poin penting dalam pengeditan, yaitu menemukan kata kunci tulisan,” ujarnya.

Peserta langsung mendapat tugas mengedit naskah. Naskah pertama yang disodork Eko Prasetyo memiliki tingkat kesulitan agak tinggi. Peserta tak diberikan waktu untuk menyelesaikan proses editing.

Puput Yulianti, peserta dari Surabaya sontak 'menolak', "saya jadi penulis saja, nggak mau jadi editor.”

Latihan di hari kedua, Pemred MediaGuru menyodorkan naskah dengan tingkat kesulitan sedang dan peserta diberi waktu lima menit untuk mengedit naskah sepanjang 290 kata tersebut.

“Ada tiga tahapan penting dalam proses editing. Antara lain, membaca cepat naskah dari atas hingga ke bawah (tehnik baca cepat), selanjutnya membaca kata perkata (tehnik baca scanning), dan membaca pelan,” Eko Prasetyo menambahkan.

Beragam motivasi dalam mengikuti kegiatan ini terlontar. “Agar bisa mengedit tulisan sendiri, biar tulisan menjadi lebih baik, ke depannya,” Nur Hamidah, peserta dari Gresik menyuarakan alasannya.

Di akhir materinya Eko Prasetyo memberi tip, “untuk mengedit, alangkah baiknya, Anda membuat naskah menjadi rata kiri, font diperbesar sesuai dengan kemampuan penglihatan. Membuat rata kiri, untuk meminimalkan adanya spasi dobel. Kalau rata tengah, tidak akan kelihatan.”

Editor: Tri Hatma Ningsih
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help