Surya/

Profil

Gara-gara Alergi Seafood, Mahasiswi UK Petra ini Pernah Terapi Minum Darah Cobra

Setelah itu saya tak mau lagi minum darah ular cobra karena rasanya aneh dan amis. Yang penting saya menghindari makanan yang bikin saya kena alergi.

Gara-gara Alergi Seafood, Mahasiswi UK Petra ini Pernah Terapi Minum Darah Cobra
sudharma adi
Christina Suhartono, kelahiran Surabaya, 23 Juni 1996, mahasiswi Universitas Kristen Petra Surabaya. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Alergi adalah reaksi kekebalan tubuh yang berlebihan terhadap zat yang dianggap berbahaya, padahal tak berbahaya. Kondisi ini terjadi sebagian masyarakat, tak terkecuali pada generasi muda. Alergi yang dialami mereka bisa dari makanan, hingga karena kondisi suhu yang ekstrem.

Kondisi alergi ini salah satunya dialami Christina Suhartono. Gadis yang akrab dipanggil Tina ini mengaku punya alergi terhadap seafood, terutama kepiting, udang dan kerang.

Perempuan yang lahir di Surabaya pada 23 Juni 1996 ini mengaku tak tahu kapan tepatnya alergi ini dialaminya. Hanya saja, dia punya pengalaman yang tak mengenakkan terkait alergi seafood ini.

Peristiwa ini terjadi ketika dia masih berusia 13 tahun. Saat itu, di rumahnya di daerah Rungkut Lor Surabaya, ada acara makan bersama keluarga besarnya. Menjamu saudara-saudaranya, tentu saja hidangan enak harus disajian, tak terkecuali menu kepiting rebus.

Sebelum itu, dia memang tak pernah makan seafood, sehingga penasaran ingin mencoba kepiting itu. "Saya juga penasaran bagaimana cara makannya. Setelah diajari saudara, saya pun makan daging kepiting dengan lahap," tuturnya mengingat peristiwa itu, Kamis (11/5/2017).

Rupanya, alergi itu mulai bereaksi sekira seperempat jam kemudian. Dia merasa ada sesuatu yang menyangkut di tenggorokan. Selain itu, bibirnya terasa gatal. Bingung dengan kondisi bibirnya, dia lalu bercermin. Betapa terkejutnya dia ketika tahu bibir bawahnya membengkak. Ketika ditanyakan pada saudaranya, mereka tertawa dengan kondisi Tina yang bengkak bibir bawahnya.

Namun, gadis yang kuliah di Fakultas Sastra program studi Sastra Inggris Universitas Kristen Petra ini lalu paham bahwa dia alergi dengan kepiting. Meski reaksi itu hilang sendiri dalam beberapa jam, namun Tina terlihat hati-hati ketika menyantap seafood. Sejak kejadian itu, sekira 3 minggu kemudian, dia pernah mencoba makan kepiting dan reaksi itu kembali muncul.

Ketika menginjak remaja, dia mencoba makan udang dan kerang, namun reaksi serupa juga terjadi. Makanya, dia menghindar dan menampik tawaran saudara atau teman yang mengajaknya makan seafood.

Namun, keinginan untuk mencicipi seafood itu masih ada, meski hanya secuil saja. Itu terjadi pada Januari tahun ini, ketika dia menghadiri acara pernikahan sepupu di sebuah hotel di Surabaya Pusat. Saat itu, di meja makan banyak menu dari seafood. Dia hanya menelan air liurnya, ketika ada menu udang mayonaise tersaji di sana. Tak tahan ingin mencobanya, dia mengambil sepotong udang, mengelupas kulit tepungnya dan memakannya.

Sedangkan udang itu dia berikan pada saudaranya. "Saya hanya berani makan tepung udangnya saja. Selain itu, saya hanya makan ikan kakap dan tofu yang ada di meja makan itu," tutur perempuan yang kuliah semester enam ini.

Meski alergi itu bisa sembuh sendiri, namun orangtuanya berupaya menyembuhkan alerginya. Sekira dua tahun lalu, Tina diajak keluarganya di daerah Lawang Malang, untuk terapi darah ular cobra. Di satu restoran yang berisi menu dari ular cobra, dia harus menenggak segelas kecil darah ular yang dicampur empedu. Rasa mual dan amis terasa, ketika darah itu ditelannya.

Setelah kejadian itu, dia kembali menjalani terapi itu sebanyak dua kali. Tapi yang bikin dia jengkel, terapi itu tak menyembuhkan alerginya. "Ya sudah, setelah itu saya tak mau lagi minum darah ular cobra karena rasanya aneh dan amis. Yang penting saya menghindari makanan yang bikin saya kena alergi," pungkasnya.

Penulis: Sudharma Adi
Editor: Yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help