Surya/

Fashion Show

Dokter Ernawati Bilang, Lebih Susah jadi Model daripada Operasi Pasien

"Berjalan seperti model ini kan beda. Lebih susah jadi model daripada operasi pasien,” celetuk Dr dr Ernawati.

Dokter Ernawati Bilang, Lebih Susah jadi Model daripada Operasi Pasien
surya/achmad pramudito
Peragaan batik ini mengawali bincang santai yang diadakan dalam rangkaian Pameran Batik, Bordir dan Aksesoris 2017 di Grand City Surabaya. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Dokter RSIA Kendangsari MERR Surabaya ternyata tidak cuma bisa duduk di meja praktik dan mengobati pasiennya.

Sebelas dokter yang berasal dari beragam kemampuan, seperti dokter anak, kandungan, dan dokter umum ini membuktikan diri bisa juga melenggang di atas catwalk seperti model profesional lainnya.

Memang tidak mudah, apalagi aksi para dokter yang seragam mengenakan batik koleksi Owen Joe ini disaksikan ratusan pasang mata pengunjung Grand City Surabaya, Jumat (12/5) malam.

Terkesan sekali gerakan para dokter ini sangat kaku dan ekspresi sedikit tegang mengiringi langkah mereka.

Satu demi satu dokter yang turut memeriahkan acara Pameran Batik, Bordir dan Aksesoris 2017 itu keluar dari ruang ganti. Mereka berpasangan menapaki catwalk dan memameran busana yang dikenakan sebelum akhirnya duduk di kursi yang disiapkan untuk acara talkshow.

“Soal pakai batik sudah biasa, karena kami setiap hari pakai batik untuk kerja. Tapi berjalan seperti model ini kan beda. Lebih susah jadi model daripada operasi pasien,” celetuk Dr dr Ernawati Darmawan SpOG (K).

Ungkapan nyaris sama dilontarkan rekannya, dr Eighty Mardiyan SpOG (K). “Kami kan nggak punya cukup waktu untuk latihan berjalan seperti model,” ucapnya.

“Wuiih….grogi banget. Belum pernah setegang ini rasanya. Ini yang pertama jadi model ditonton banyak orang,” tutur Eighty Mardiyan.

Yang tak kalah menarik adalah keikutsertaan dr Agustini Rizky Dhiniharia SpOG (K). Direktur RSIA Kendangsari MERR Surabaya ini dikenal tidak pernah berdandan. Namun, seharian itu dia tampil berbeda dengan dandanan yang membuat para dokter lainnya pangling.

Meski begitu perempuan yang biasa dipanggil dengan sapaan dokter Dhini ini tak mau melepas sepatu booth yang selama ini selalu dia pakai. Dokter Dhini sama sekali tak mau ganti sepatu high heels yang disodorkan kepadanya.

Untuk menyiasatinya, sang desainer pun memberinya rok panjang sehingga menutupi sepatu booth yang dia kenakan. Dan sampai acara peragaan busana selesai, dokter Dhini bisa menyelesaikan ‘tugas’ dengan baik.

”Yang penting bukan fashionya. Intinya lewat acara itu kami ingin memperkenalkan kepada masyarakat ragam bidang kedokteran yang kami miliki dan belum banyak diketahui masyarakat,” kata Eighty Mardiyan.

Peragaan busana yang dilakukan para dokter ini memang menjadi pembuka acara bincang-bincang seputar kesehatan keluarga. Eighty Mardiyan yang juga konsultan uroginekologi rekonstruksi ini lalu memberi contoh kemampuan yang dia miliki dan diakui belum banyak dikenal masyarakat.

“Istilah yang banyak dikenal masyarakat adalah rahim turun. Belakangan tren di masyarakat mengalami kenaikan. Kondisi ini memang mengganggu kenyamanan, tetapi bisa diobati kok,” ujarnya kepada Surya. 

Penulis: Achmad Pramudito
Editor: Yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help