Surya/
Grahadi

Press Release

Bude Karwo Ingin Batik Dipakai di Setiap Kesempatan

Ketua Dekranasda Jatim, Nina Soekarwo, ingin agar batik dikenakan semua kalangan dan generasi pada setiap kesempatan, tak cuma di acara formal.

Bude Karwo Ingin Batik Dipakai di Setiap Kesempatan
ist/Humas Pemprov Jatim
Ketua Dekranasda Jatim, Nina Soekaro (duduk kanan) saat menghadiri Pameran Batik, Bordir, dan Aksesoris Fair 2017 di Surabaya, Rabu (10/5/2017). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Prov. Jatim, Nina Soekarwo, ingin agar batik menjadi busana yang dipakai semua generasi, baik mereka yang muda ataupun yang tua, dalam setiap kesempatan. 

Ini penting dilakukan karena selama ini batik lebih sering digunakan untuk acara formal saja.

“Melalui Pameran Batik, Bordir, dan Aksesoris Fair ke-12 tahun 2017 ini saya berharap semua segmen khususnya generasi muda lebih mencintai batik, dan tidak hanya mengenakan batik pada acara formal saja,” kata Nina, Rabu (10/5/2017).

Menangggapi lebih mahalnya harga batik di Jatim, Bude Karwo-sapaan akrab istri Gubernur Jatim menjelaskan, jumlah pembatik di Jatim lebih sedikit dibandingkan yang di Jateng seperti Solo, Pemalang, atau lainnya. Selain itu, bahan bakunya sebagian juga mengambil dari daerah lain, oleh sebab itu harga batik di Jatim relatif lebih mahal dibanding daerah lain.

“Kebijakan komprehensif di semua aspek mulai hulu sampai hilir mesti dilakukan agar batik, bordir dan aksesoris di Jatim akan tetap survive di pasar global,” ungkapnya.

Bude Karwo meminta pemerintah bisa membantu pengadaan bahan baku untuk batik, bordir, dan aksesoris sehingga harga jual lebih murah. Disamping itu, para pengrajin juga diminta terus meningkatkan kualitas dan kuantitas produknya.

“Kami telah melakukan berbagai pelatihan untuk membangun SDM termasuk pengrajin batik dan bordir memiliki inovasi yang tiada henti,” terangnya.

Lebih lanjut disampaikan, kebijakan hilir yang telah dilakukan salah satunya ialah membuat supporting policy, berupa pengembangan TI di Jatim yang sedang “on going”.

Dekranasda akan segera bersinergi karena di tengah persaingan global TI memegang peranan yang cukup vital.

Dicontohkan, keberadaan layanan transportasi online seperti Uber, Grab, Gojek dan sebagainya adalah IT economic based yang membuat pemerintah mengambil tindakan dengan pelaku konvensional.

“Hal ini dimungkinkan akan bisa muncul di industri batik, bordir dan aksesoris,” imbuhnya.

Sebelum mengakhiri sambutannya, Bude Karwo berpesan agar setiap pameran ada evaluasi progres daya saing pasar. Hal ini ditunjukkan dengan dengan market share batik dan bordir Jatim di pasar domestik dan internasional. Dengan demikian akan dimiliki problem and challange identification yang detail.

“Jika ini konsisten dilakukan, ke depan kita akan terus mampu melakukan penetrasi pasar di berbagai market space,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Disperindag Prov. Jatim Dr. Moch. Ardi Prasetiawan, M. Eng, mengatakan, pameran batik, bordir dan aksesoris ke-12 tahun 2017 mengambil tema “The Amazing Natural Colours Of East Java” guna menonjolkan keunikan batik Jatim yang menggunakan bahan alami.

Jumlah peserta yang mengikuti pameran sebanyak 219 booth, meningkat dibanding tahun 2016 yaitu 2019 booth. Sedangkan omset yang ditargetkan ialah Rp. 7 milyar dengan target pengunjung 50 ribu orang.

Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help