Surya/

Berita Malang Raya

Elis, Ventriloquist yang Hidupkan Kembali Tradisi Mendongeng

Ventriloquist adalah seni bicara tanpa menggerakkan bibir. Suara yang keluar seakan-akan suara boneka atau media yang digunakan untuk mendongeng.

Elis, Ventriloquist yang Hidupkan Kembali Tradisi Mendongeng
benni indo
Ventriloquist - Elis Siti Toyibah dan bonekanya yang bernama Cetta. 

SURYA.co.id | MALANG - Peristiwa letusan Gunung Kelud pada 2014 lalu mengantarkan Elis Siti Toyibah (25) mahasiswa Agribisnis Universitas Brawijaya menjadi seorang relawan yang tergabung dalam Forum Indonesia Muda Malang. Saat itu ia mendapat tugas di bagian psikososial untuk membantu mengurangi trauma anak-anak korban letusan.

Ia dan kawan-kawannya sempat bingung untuk mencari cara bagaiaman menghilangkan trauma pada anak-anak. Cara-cara yang selama ini dilakukan seperti bermain atau sulapan dirasa belum ampuh menghilangkan trauma. Hingga akhirnya ia mendapatkan ide untuk menggunakan boneka sebagai media dongeng. 

Sejak saat itu, ia menjadi seorang ventriloquist. Ventriloquist adalah seni bicara tanpa menggerakkan bibir. Suara yang keluar seakan-akan suara boneka atau media yang digunakan untuk mendongeng.

Boneka itu ia pesan khusus dari Jakarta. Setibanya di Malang, boneka itu diberi mana Cetta yang berate berpengetahuan luas. Hingga saat ini, Cetta selalu setia menemani Elis saat mendongeng.

“Saya memang suka dongeng, dan saat itu anak-anak merasa Cetta adalah temannya,” kata Elis, Sabtu (6/5/2017).

Seiring berjalan waktu, cara Elis mendongeng menggunakan boneka itu terus ia gunakan. Apresiasi pun bermunculan hingga akhirnya ia kerap menjadi pembicara bersama Cetta di beberapa daerah. Tidak hanya mahasiswa, pelajar, karyawan, guru dan kelompok komunitas lainnya juga kerap ikut acaranya.

Bagi Elis, mendongeng adalah cara yang efektif untuk berinteraksi dengan anak. Anak cenderung mau mendengarkan isi dongeng yang mendidik daripada mendengar nasihat langsung dari orangtua. Kondisi itu ia pahami ketika ia bertemu langsung dengan anak-anak yang mulai berubah ketika diberi terapi dongeng dengan Cetta.

“Dulu anak-anak itu tidak memiliki keinginan dan cita-cita. Namun setelah beberapa kali mendengarkan dongeng, kini mereka berani mengatakan secara spesifik apa cita-cita mereka,” ujarnya ketika menjelaskan dampak mendongeng kepada anak.

Elis ingin tradisi mendongeng kembali tumbuh di kalangan masyarakat, khususnya para orangtua.

Menurutnya, anak Indonesia butuh cerita. Sedangkan mendongeng adalah cara terbaik untuk menumbuhkan kebaikkan. Upaya mestinya juga mendapat perhatian dan dukungan pemerintah.

Selama di Malang, Elis mengaku dukungan dari pemerintah daerah masih belum maksimal. Ia biasanya memanfaatkan ruang terbuka publik untuk mendongeng bersama komunitasnya Dongeng Indonesia. Tapi, surat izin yang disodorkan ke Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP), namun proses keluarnya izin butuh waktu lama sehingga acara sering terganggu.

“Kalau tidak ada izin, bisa diusir oleh Satpol PP,” keluhnya.

Semestinya pemanfaatan ruang publik bisa menggedor nurani Pemkot Malang akan kepedulian terhadap anak-anak. Ruang publik atau taman-taman yang berada di Kota Malang banyak didatangi anak-anak sehingga akan sangat efektif jika gerakan sosial dilakukan di ruang publik.

Penulis: Benni Indo
Editor: Yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help