Citizen Reporter

Sambang Dalang Panutan Ki Panut Darmoko di Nganjuk

Ki Panut Darmoko, dalang asal Nganjuk ini berjaya di eranya, ndalang di istana negara hingga ke sejumlah negara.. kini, saat bersimpuh di pusaranya..

Sambang Dalang Panutan Ki Panut Darmoko di Nganjuk
imam nugroho/citizen reporter
Di pusara Ki Panut Darmoko di Nganjuk 

Reportase Imam Nugroho
Pegiat literasi/penikmat fotografi dan musik/karyawan swasta di Surabaya
fb.com/imam nugroho

NAMA lengkapnya Haji Panut Darmoko bin Marsaid. Nama yang agak asing untuk didengar di era gadget seperti sekarang ini. Namun, bagi mereka yang berada di era 60-90an kiranya paham betul dengan nama populer itu.

Pria kelahiran Nganjuk 86 tahun silam tersebut disodorkan penulis buku Surabaya Punya Cerita, Dhahana Adi Pungkas membuat saya ingin menuliskannya walau hanya beberapa paragraf saja.

Menurut penulis yang masih keluarga dengan Ki Panut Darmoko ini, eksistensi pak puhnya sebagai seorang dalang dalam melestarikan kesenian wayang kulit bergaya Surakarta tersebut tak diragukan lagi.

Bukan sekadar mendalang, Ki Panut Darmoko juga akademisi tulen yang menempa kehidupan seninya menjadi guru SPG Negeri di Nganjuk.

Pengagum Ki Pujosumarto, Ki Nartisabda, Ki Nyoto Carito serta beberapa dalang mahsyur ini menurut pengikut setianya, Sumadi, memiliki kepribadian tenang, sabar, memberi keteduhan bagi lawan bicara, juga andhap ansor (rendah hati).

Pria asal Nganjuk ini mengisahkan, selama menjadi pengikutnya sejak 13 Juni 1986, Ki Panut Darmoko menjadi salah satu dalang terkenal di jamannya dan tampil di berbagai acara dan negara.

Di antaranya tampil di Istana Bogor masa Presiden RI pertama, Soekarno, serta di beberapa negara sahabat Indonesia seperti: Amerika Serikat, Australia, Bangkok, Inggris, hingga Prancis.  

Sayang, saya tak berhasil menyaksikan koleksi  wayang yang pernah dimainkannya. Memasuki kediaman Ki Panut Darmoko yang mulai belajar mendalang di usia 16 tahun dari sang ayah, saya merasa terhormat.

Betapa tidak, saya berkunjung ke rumah dalang legendaris Nganjuk dengan segudang kisah dan kenangannya yang terselip di antara jaman dan memori sebagai warga Anjuk Ladang.

Arsitektur rumah era tahun 80-90an ini masih terlihat ciri khasnya serta terawat dengan baik. Sebaik anugrah yang diperoleh Sutasni, istri Ki Panut Darmoko dalam melestarikan budaya bangsa.

Kini, kedua pusara itu saling berdampingan dengan nama di atas batu nisan yang mulai aus, seperti ausnya memori terhadap Ki Panut Darmoko.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved