Surya/

Berita Nganjuk

Peringati May Day, Serikat Pekerja Lintas Media Tabur Bunga di Makam Marsinah

Pengurus Serikat Pekerja Lintas Media (SPLM) memperingati hari buruh internasional (May Day) dengan doa bersama di makam Marsinah.

Peringati May Day, Serikat Pekerja Lintas Media Tabur Bunga di Makam Marsinah
surya/sugiyono
Pengurus SPLM memperingati may day dengan tabur bunga di makam pahlawan pekerja almarhum Marsinah di Nganjuk, Senin (1/5/2017) 

SURYA.co.id | NGANJUK - Pengurus Serikat Pekerja Lintas Media (SPLM) memperingati hari buruh internasional (May Day) dengan doa bersama di makam Marsinah di Nganjuk.

Perjuangan almarhumah Marsinah menjadi spirit kaum pekerja media dalam memperjuangkan hak-hak kesejahteraan.

Hal itu melihat pekerja media yang masih diberi upah tidak sesuai dengan kerja kerasnya.

Pemberlakuan status koresponden /stringer di perusahaan media massa berpeluang besar terjadinya pelanggaran Undang-undang Ketenagakerjaan.

Kontributor tidak dianggap sebagai karyawan padahal sudah bekerja selama tiga tahun lebih.

Padahal sesuai Pasal 54 Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan serta keputusan menteri tenaga kerja dan transmigrasi No.100/MEN/IV/2004 tentang pelaksanaan perjanjian kerja waktu tertentu (PPKWT).

"Dengan keadaan itu, boleh disebut status mereka lebih buruk dari pekerja outsourcing," kata Moch Rudy Hartono Ketua SPLM Jawa Timur, usai menggelar doa bersama di makam almarhum Marsinah, Senin (1/5/2017).

Menurut Rudy Hartono melihat survei Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menemukan kondisi kontributor media di daerah banyak diabaikan hak-hak kesejahteraannya serta hak BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan.

Padahal jurnalis dituntut kerja '24 jam' dan tetap siaga di hari libur nasional.

"Ini merupakan pelanggaran Pasal 78 ayat 2 Undang-undang Nomor 13 tahun 2003 soal upah lembur," imbuhnya.

Penulis: Sugiyono
Editor: Titis Jati Permata
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help