Surya/

Profil

Mona Exploma: Demi Batik Rela Blusukan ke Perkampungan

"Sudah sekitar 14 tahun untuk mengumpulkan kain batik dan aksesorinya yang kuno-kuno," kata Mona di sela Festival Kartini di Grand City.

Mona Exploma: Demi Batik Rela Blusukan ke Perkampungan
surya/wiwit purwanto
Mona Exploma, CEO Indonesian Heritage. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Menggeluti kerajinan tradisional seperti kain batik dan aksesorinya bukan hal baru bagi Mona Exploma, CEO Indonesian Heritage.

Demi berburu kain batik dan aksesori batik kuno, ia harus rela berjalan kaki ke pelosok desa dan perkampungan.

"Sudah sekitar 14 tahun untuk mengumpulkan kain batik dan aksesorinya yang kuno-kuno," kata Mona di sela Festival Kartini di Grand City, Jumat, 21/04/2017.

Untuk mendapatkan koleksi kuno, kerap Mona harus masuk ke pedalaman pedesaan, dan belum tentu setelah mendapatkan apa yang dicarinya. Tak jarang si pemiliknya tidak menjualnya.

Nah setelah di tangan Mona koleksi itu menjadi barang dagangan yang bisa dibeli siapa saja.

"Kalau barang sudah di tangan saya statusnya bukan lagi koleksi tapi kolekdol, koleksi terus didol (di jual)," tukasnya lalu tertawa.

Di Festival Kartini, alumnus Stikom Surabaya ini memajang koleksi kain batik dan aksesori kain batik kuno kepada masyarakat luas.

Sejumlah kain batik kuno dari berbagai daerah milik pembatik terkenal dipajangnya.

Menurutnya kain batik itu disebut kuno karena usianya dan koleksi yang hanya satu. Misalnya batik Pekalongan dari pembatik Oey Soe Joen, batik Hokokai, dan batik Tiga Negeri.

"Di sebut batik Tiga Negeri karena kain batik ini dibuat di tiga kota yakni Pekalongan, Solo, dan Lasem," jelas wanita kelahiran Jakarta 24 Juni 1978.

Pada Festival Kartini yang digelar sampai 24 April nanti, penyuka kuliner pedas ini ingin mengingatkan kembali warisan budaya berupa kain batik, dan mengajak masyarakat untuk men-support karya anak negeri.

Penulis: Wiwit Purwanto
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help