Kesehatan

Gara-gara Alergi Hebat, Yuliani Kini Menguasai Natutropati dan Oriental Medicine

Alergi terhadap puluhan bahan makanan justru membuat Yuliani Chandranata menjadi salah satu tokoh dalam bidang Naturopati. Apa itu? Baca di sini...

Gara-gara Alergi Hebat, Yuliani Kini Menguasai Natutropati dan Oriental Medicine
foto: satwika rumeksa
Yuliani Chandranata 

SURYA.co.id | SURABAYA - Alergi terhadap 32 macam bahan makanan malah memberi berkah untuk Yuliani Chandranata. 

Sebab, gara-gara alergi itulah, pemilik gelar Dr Yuliani Chandranata ND MSAOM Lac BSc ini tertarik mempelajari Naturopati, ilmu yang mempelajari tentang sistem kesehatan secara menyeluruh. 

Berbeda dengan ilmu kesehatan lainnya, dalam Naturopati, fokusnya adalah promosi kesehatan ketimbang pengobatan penyakit. Dengan promosi kesehatan itu, tubuh didorong untuk menyembuhkan dirinya melalui berbagai teknik seperti diet, herbal, pijat, manipulasi sendi, hingga perubahan gaya hidup. 

"Saya sejak kecil menderita alergi berat, sehingga banyak usaha yang saya lakukan untuk sembuh. Di tanah air saya tidak menemukan kesembuhan, saat itulah saya ditangani oleh dokter naturopati sehingga saya menemukan kesembuhan," kata Yuliani.

Sejak itulah kemudian menggeluti ilmu naturopati hingga 11 tahun.

Kenapa sampai sebegitu lama?

Menurutnya, untuk bisa disebut dokter naturopati banyak hal yang harus dipelajari. Ia memberi penjelasan bahwa ia memperoleh gelar itu ya mirip sekolah S1 sampai S3.

"Jenjang S1 lama pendidikannya seklitar empat tahun, kemudian lanjut S2 dan S3 sehingga total waktu ya 11 tahun itulah," katanya saat ditemui di sela-sela acara workshop pembekalan bagi anggota Aspetri Jatim, Kamis (20/4/2017).

Apa beda naturopati dengan kedokteran konvensional (medis)? Menurutnya seorang dokter naturopati disamping mempelajari ilmu kedokteran (medis) juga belajar hal-hal lain seperti mempelajari nutrisi, herbal, homeopati, hidroterapi, dan fisioterapi.

"Dokter naturopati juga diajari melakukan bedah, tapi cuma minor saja, tidak seperti dokter bedah (medis)."

Halaman
12
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help