Surya/

Liputan Khusus Longsor Ancam Jatim

MerekaTinggal di Daerah Rawan Bencana 2: Lari ke Gua jika Terjadi Banjir

"Sampun (sudah) terbiasa Mas, hampir tiap tahun terjadi banjir bandang dan longsor di sini," kata Dasmi (50), warga setempa.

MerekaTinggal di Daerah Rawan Bencana 2: Lari ke Gua jika Terjadi Banjir
surya/m taufik
Bronjong penguat tebing dibangun di Kecamatan Grabakan Kab Tuban. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Warga Guoterus tinggal di lereng perbukitan kapur. Bahaya longsor, banjir bandang, dan angin puting beliung selalu menghantui warga setempat.

"Sampun (sudah) terbiasa Mas, hampir tiap tahun terjadi banjir bandang dan longsor di sini," kata Dasmi (50), warga setempat saat ditemui Surya.co.id di rumahnya, Rabu (12/4).

Rumah Dasmi berada di lereng bukit kapur. Kalau musim hujan, rumahnya rawan terkena longsor dan banjir bandang. Ketika terjadi banjir bandang, air yang membawa material batu, kayu, dan lumpur, masuk ke rumahnya. Terakhir, terjadi banjir bandang pada 2016.

Pemerintah sudah membangun plengsengan di lereng bukit kapur tersebut. Fungsi plengsengan untuk menahan material dari gunung agar tidak masuk ke rumah warga saat terjadi banjir bandang. Tetapi beberapa kali plengsengannya juga ambrol diterjang banjir bandang.

"Bagian depan rumah sudah saya tinggikan satu meter. Agar material batu dan lumpur tidak masuk rumah saat banjir bandang," ujarnya.

Sebenarnya, ia ingin pindah ke tempat lain yang lebih aman. Alasan ekonomi membuat ia tetap bertahan tinggal di kawasan itu. Ia mengaku tidak punya biaya untuk pindah ke tempat lain yang lebih aman. "Penginnya ya bisa pindah ke tempat yang aman. Tapi tak ada biaya," ujarnya.

Ia hanya pasrah tinggal di daerah rawan bencana. Ia bersama warga lain berusaha waspada ketika terjadi hujan deras dalam waktu lama. Biasanya hujan deras yang cukup lama akan menyebabkan longsor dan banjir bandang.

"Kalau terjadi banjir bandang maupun longsor, kami lari ke atas sembunyi di gua, di sini banyak gua. Sembunyi di gua malah aman," katanya.

Warga lain, Junaedi (37), mengatakan selama ini ada tiga peristiwa banjir bandang besar yang pernah terjadi di desanya. Banjir bandang pertama pada 1977. Banyak rumah penduduk yang hancur diterjang banjir bandang.

Banjir bandang besar kedua terjadi pada 2000. Sejumlah rumah warga, termasuk rumah orangtuanya juga rusak diterjang banjir bandang.

Pada banjir bandang kedua ini, pemerintah merelokasi sekitar 10 rumah warga ke tempat lebih aman. "Pada 2003, saya pindah sendiri ke tempat yang aman. Hanya saya dan istri, sedang orangtua saya tetap tinggal di sana," kata bapak dua anak itu.

Banjir bandang lumayan besar ketiga terjadi pada 2015. Akses jalan penghubung Jatironggo-Tuban macet total ketika itu.

"Sampai sekarang saya masih waswas ketika musim hujan. Orangtua saya masih tinggal di kawasan rawan bencana," katanya.

Menurutnya, penduduk setempat sudah hafal dengan tanda-tanda banjir bandang. Biasanya banjir bandang dan longsor terjadi pada awal musim hujan atau musim tanam pertama. Saat musim hujan datang, ia meminta orangtuanya siap-siap untuk mengantisipasi datangnya banjir bandang.

"Biasanya, hewan ternak kami selamatkan dulu ke tempat aman. Kalau terjadi banjir bandang dan longsor sewaktu-waktu, kami tinggal lari menyelamatkan diri," ujarnya. (sha/fla/ufi)

Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help