Surya/

Liputan Khusus Longsor Ancam Jatim

Peneliti Bencana ITS : Cegah Longsor, Tutup Retakan dengan Tanah dan Padatkan

Penebangan hutan yang cukup masif mulai 1998, atau bahkan lama sebelumnya, membuat ketidakstabilan tanah di lereng.

Peneliti Bencana ITS : Cegah Longsor, Tutup Retakan dengan Tanah dan Padatkan
surya/m taufik
Lokasi longsor di Dusun Dlopo, Desa Kepel, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk. Kamis (13/4/2017). Beberapa permukiman penduduk di kawasan itu juga dinyatakan rawan karena dekat dengan titik longsor. 

News Analysis
Dr Ir Amien Widodo MS
Peneliti Bencana ITS

SURYA.co.id - Sejak akhir 2016, banyak terjadi bencana tanah longsor di Jawa Timur. Ini karena intensitas hujan yang sangat tinggi.

Longsor itu akibat gerak benda di bidang miring. Jadi longsor sangat bergantung berat di bidang itu, gaya geser tanah, dan sudut kemiringan lereng.

Selama ini, tanah di lereng bisa menempel karena ada hutan. Akar pohon dihutan mengikat tanah itu.

Penebangan hutan yang cukup masif mulai 1998, atau bahkan lama sebelumnya, membuat ketidakstabilan tanah di lereng.

Ditambah lagi dengan dipakainya lahan bawah lereng untuk jalan dan rumah-rumah. Itu juga yang membuat tambahan sudut kemiringan lereng.

Sementara di sisi lain, daya ikat lereng sudah hilang karena hilangnya pohon.

Dengan kondisi demikian, tanah di lereng itu statusnya kritis. Tinggal menunggu pemicu. Sejak 2016, hujan terjadi itu sepanjang tahun. Itu membuat penambahan berat air di lereng.

Tidak adanya pohon membuat kohesi atau daya ikat tanah menjadi nol alias hilang. Akbiatnya, lereng menjadi berat, semakin berat, dan ambrol.

Longsor sebenarnya proses alam biasa. Tapi, manusia mempercepat proses itu.

Halaman
12
Editor: Titis Jati Permata
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help