Surya/

Liputan Khusus Longsor Ancam Jatim

Ini Dia Daerah-daerah di Jatim yang Paling Rentan Alami Tanah Longsor

Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan BPBD Jatim ada 50 kecamatan yang memiliki risiko pergerakan tanah tinggi.

Ini Dia Daerah-daerah di Jatim yang Paling Rentan Alami Tanah Longsor
surya/m taufik
Lokasi longsor di Dusun Dlopo, Desa Kepel, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk. Kamis (13/4/2017). Beberapa permukiman penduduk di kawasan itu juga dinyatakan rawan karena dekat dengan titik longsor. 

SURYA.co.id | NGANJUK - Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD Jatim, ada 50 kecamatan yang memiliki risiko pergerakan tanah tinggi.

Kecamatan-kecamatan itu tersebar di hampir seluruh daerah di Jatim.

Tiga daerah yang memiliki risiko paling tinggi, menurut Petugas Pusdalops BPBD Jatim Dino Andalananto, adalah Trenggalek, Pacitan, dan Ponorogo.

Kerentanan itu merujuk pada tingginya tingkat kejadian selama 2016.

Dari data yang sama, ia menyebut, sebanyak 37 kejadian tanah longsor terjadi di Trenggalek, 19 di Pacitan, dan 14 kali di Ponorogo. Jumlah itu menjadi mayoritas dari total kejadian sekitar 155 kali.

Sementara pada 4 bulan pertama 2017, jumlah kejadian tanah longsor di seluruh Jatim juga tergolong tinggi, yakni 47 kejadian dengan daerah paling banyak di Trenggalek, Ponorogo, dan Situbondo.

Rinciannya, 11 kali longsor di Trenggalek, delapan kali longsor di Ponorogo, dan lima kali longsor di Situbondo.

Dia mengatakan, penentuan rendah, sedang, atau tingginya risiko tanah longsor didasarkan pada tiga hal. Yakni, tingkat kerentanan, kapasitas, dan kerawanan. Kerentanan ini merujuk pada ancaman longsor.

Jika mengancam pemukiman, potensi longsor tergolong berbahaya. Sementara kapasitas bertolak ukur terhadap ketersediaan fasilitas penanganan bencana di suatu lokasi. Sedangkan tingkat kerawanan dilihat dari kondisi wilayah terkait kelongsoran tanah.

“Faktor-foktor penyebab bencana saat ini adalah perubahan iklim dan tata ruang. Faktor el nino dan la nina akhir-akhir ini menjadi faktor global terjadinya bencana. Sementara tata ruang lebih karena alih fungsi lahan. Misalnya, hutan yang dijadikan pemukiman atau perkebunan,” katanya.

Dari tiga daerah paling rentan itu, longsor terakhir yang menelan korban terjadi di Ponorogo, tepatnya di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Sabtu (1/4). Setidaknya, 28 orang menjadi korban dalam kejadian itu. (Samsul Hadi/M Taufik/Aflahul Abidin)

Editor: Titis Jati Permata
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help