Surya/

Citizen Reporter

Saat Ilalang Rumah Adat Terpasang Saatnya Para Muda-mudi Belu Mencari Pendamping Hidup

penggantian alang-alang rumah adat berlangsung selama sepekan, semua suku bahu membahu membantu... bagi anak muda saatnya mencari jodoh ..

Saat Ilalang Rumah Adat Terpasang Saatnya Para Muda-mudi Belu Mencari Pendamping Hidup
istimewa
Mengganti alang-alang rumah adat di Belu 

Reportase Adrianus Jefri Lopes
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang

 

MUSIM panas bukan tantangan bagi masyarakat di Nusa Tenggara Timur (NTT). Hamparan savana yang terlihat gersang di musim ini, tetap jadi pemacu semangat kerja masyarakat Desa Rafa’e, Kecamatan Raimanuk Kabupaten Belu. Budaya kerja keras mudah ditemukan di sini.

Salah satunya bergotong royong membenahi rumah adat. Penggantian atap dari rumput alang-alang ini tak sembarang dilakukan, karena diyakini sebagai pantangan dan harus diawali dengan ritual khusus oleh sesepuh adat.

Biasanya penggantian alang-alang rumah adat berlangsung di bulan September hingga November setiap tahunnya. Tradisi warisan budaya leluhur ini juga jadi ajang silahturahmi keluarga besar dan sesama anggota suku lainnya.

Acara penggantian atap rumah adat ini dinamakan sihak hae dalam bahasa Tetun. Mereka tidak bekerja sendirian, setiap suku yang hadir ke acara ini, dapat membawakan rumput alang-alang ataupun kebutuhan lainnya sebagai bentuk sumbangan dan solidaritas.

Rumah adat bagi sebagian besar warga di Kabupaten Belu jadi simbol pemersatu, ketaatan dan sebagai rumah tinggal yang harus dijaga dan dirawat karena sebagai warisan budaya leluhur.

Tak hanya tu, sihak hae sekaligus menjadi membuktian bahwa lelaki Belu adalah pekerja keras. Mereka saling bahu-membahu membongkar puing alang-alang lama serta membenahi bagian rumah adat yang rusak.

Ketika berada di atas rumah adat, mereka bekerja sembari diiringi lantunan syair-syair kuno oleh sesepuh, juga cerita silsilah dan keturunan suku mereka.

Dalam acara ini, banyak hal yang dapat disaksikan, misalnya tarian tradisi, silat kampung, dan permainan tradisional lainnya. Di sela-sela acara yang berlangsung selama satu minggu ini, dapat dimanfaatkan oleh muda-mudi sebagai ajang berkenalan dan mencari jodoh.

Mereka akan beranggapan bahwa orangtua sudah saling kenal, dan percaya ini dapat mempererat tali kekeluargaan mereka.

Bagi traveller yang ingin meluangkan waktu liburnya, dapat berkunjung ke Belu dan Malaka di bulan September sampai November, karena di bulan inilah banyak momen pergantian alang-alang rumah adat, serta acara budaya lainnya.

Menyaksikan langsung ritual sihak hae dan menikmati keindahan panorama Gunung Mande’u dengan hamparan savana luas di perbatasan Indonesia-Timor Leste, yang masih sangat terjaga keasliannya.

Selain itu, karena keramahan masyarakatnya pengunjung bahkan bisa mendapat sarung tenun ikat daerah ini secara gratis sebagai cinderamata untuk dibawa pulang.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help