Surya/

Lipsus Perburuan Benih Lobster

Para Mantan ‘Penjahat Laut’ yang Bertobat

Setelah menerima pemahaman dari Salam Indonesia selama kurang lebih dua tahun, para nelayan di sana sadar bahwa yang mereka lakukan merusak alam.

Para Mantan ‘Penjahat Laut’ yang Bertobat
surabaya.tribunnews.com/Aflahul Abidin
Aral Subagyo menyiapkan pelbagai barang yang harus dibawa sebelum melaut. Dia dan nelayan lain di Kondang Merak memilih tetap mencari ikan ketimbang berburu benur lobster yang ilegal. 

SURYA.co.id | MALANG - Dibutuhkan nyali besar untuk berkunjung ke Pantai Kondang Merak, di Desa Sumberbening, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang.

Rute untuk mencapai pantai selatan itu cukup sulit, melewati jalan makadam berbatu terjal sejauh 5 km lebih.

GERIMIS baru saja turun saat dua repoter Surya.co.id sampai di persimpangan jalan menuju arah pantai Kondang Merak, Rabu (5/4/2017) dini hari.

Jalan itu berada persis di ujung aspal sisi timur Jalur Lingkar Selatan (JLS). Tidak ada penerangan jalan. Sorot lampu sepeda motor menjadi pemandu utama untuk sampai di garis pantai.

Setidaknya butuh sekitar 30 menit untuk sampai ke sana. Surya.co.id harus melewati jalan bebatuan licin naik-turun.

Salah satu reporter Surya.co.id harus turun dari jok belakang motor dan berjalan kaki melewati rute seperti itu.

Meski semua terlihat gelap, namun suasana asri hutan konservasi di kanan-kiri jalan tetap terasa.

“Kalau macan, beberapa kali terlihat di jalan ini,” kata Andik Syaifudin (30), Ketua Sahabat Alam (Salam) Indonesia.

Surya.co.id bertemu Andik pagi hari setelah perjalanan itu. Ia membantu Surya.co.id mengenal Kondang Merak dan para nelayannya yang kukuh menolak perburuan benur lobster.

Sesampai di pintu masuk wisata Pantai Kondang Merak malam itu, tak ada suasana kehidupan apapun, kecuali suara-suara lirih binatang hutan.

Halaman
1234
Penulis: Aflahul Abidin
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help