Lipsus Perburuan Benih Lobster

Selain Hasil Menggiurkan, Tangkap Benur Lobster lebih Hemat Biaya

Apabila dihitung, hasil melaut ikan dengan waktu yang lebih banyak dan biaya yang tinggi hanya mendapatkan Rp 1,8 juta per malam.

Selain Hasil Menggiurkan, Tangkap Benur Lobster lebih Hemat Biaya
surabaya.tribunnews.com/Aflahul Abidin
Aral Subagyo menyiapkan pelbagai barang yang harus dibawa sebelum melaut. Dia dan nelayan lain di Kondang Merak memilih tetap mencari ikan ketimbang berburu benur lobster yang ilegal. 

SURYA.co.id | MALANG - Menurut Aral Subagyo, nelayan Kondang Merak yang tetap memilih mencari ikan saat musim benur tengah ramai, biaya nelayan ikan untuk melaut lebih tinggi. Yaitu, 12 liter bensin untuk genset, 20 liter solar, dan rokok setara Rp 200.000.

“Hasil melaut ikan dari pukul 2 siang sampai 9-10 pagi adalah 1,5 kuintal ikan yang harganya rata-rata Rp 12.000 per kilogram,” katanya.

Apabila dihitung, hasil melaut ikan dengan waktu yang lebih banyak dan biaya yang tinggi hanya mendapatkan Rp 1,8 juta per malam.

Dengan perbandingan pendapatan itu, tak mengherankan apabila banyak nelayan memilih berburu benur lobster ketimbang mencari ikan.

YD, nelayan lainnya, mengaku tertarik mencari benur lobster karena musim paceklik ikan terjadi sejak sekitar empat bulan terakhir. Itu sebabnya, saat ada pengepul butuh pasokan benur lobster, ia bergegas mencarinya.

“Penyebab ikan jarang itu anomali cuaca, musim arus, angin barat, juga gelombang pasang,” kata dia.

Jika tidak mencari benur lobster saat musim paceklik, nelayan akan menganggur. Seperti hari itu, para nelayan tidak mendapat permintaan benur dari para pengepul. Nelayan menduga, para pengepul tengah tiarap setelah ramai-ramai penangkapan kasus benur lobster dalam beberapa hari terakhir.

“Hasil (nelayan) lumayan. Tapi, yang lebih besar di pengepulnya. Saya dengar-dengar, pengepul menjual benur ke bos besar di Surabaya Rp 80.000 per ekor jenis pasir dan Rp 130.000 per ekor jenis mutiara,” kata YD.

Menurut Ketua Yayasan Bhakti Alam Sendangbiru, Saptoyo, separuh lebih nelayan di Sendangbiru yang totalnya ribuan memilih menangkap benur lobster. Salah satu alasan mereka menangkap benur lobster adalah hasilnya yang menggiurkan.

Di Kecamatan Puger, Kabupaten Jember, hal serupa juga terjadi. Nelayan berbondong-bondong mencari benur sejak sekitar setahun terakhir dan mulai tiarap sejak beberapa hari lalu. Ketua Forum Komunikasi Nelayan (FKN) Puger, Hambali, mengatakan, hampir semua nelayan di sana mencari bayi lobster.

“Ya sama (dengan Kabupaten Malang). Tiga hari ini juga sudah sepi. Mungkin takut setelah ada penangkapan-penangkapan,” kata Hambali, Kamis (6/4/2017).

Meski begitu, tak menutup kemungkinan ada juga nelayan Puger yang mencari secara diam-diam di tempat yang berbeda.

Ia mengatakan, banyak nelayan Puger yang sebelumnya mencari benur mengeluhkan adanya Permen KP 1/ 2015.

“Ada yang tanya, bagaimana ini? Indonesia mungkin ingin mendapat predikat kaya sumber daya, tapi tidak bisa diambil,” katanya, menirukan seorang nelayan yang mengeluh kepadanya. (sha/fla/ufi)

Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help