Surya/

Berita Banyuwangi

Cerita Inspiratif dari Uang Receh Siswa Asuh Sebaya di Banyuwangi

Di Banyuwangi, Pemkab mendorong diterapkannya program Siswa Asuh Sebaya (SAS) untuk mendorong kepedulian sosial para pelajar. Lihat, begini hasilnya..

Cerita Inspiratif dari Uang Receh Siswa Asuh Sebaya di Banyuwangi
surabaya.tribunnews.com/Haorrahman
Sekolah di Banyuwangi menerapkan program Siswa Asuh Sebaya (SAS). Anak dari keluarga mampu, membantu anak dari keluarga tak mampu 

Usai pulang sekolah, Arroyyan Bentang, siswa Kelas 1 Sekolah Dasar (SD) Islam Terpadu Al Uswah, Sukowidi, Banyuwangi, selalu bercerita pada sang bunda bahwa dirinya telah menyumbangkan sebagian uang sakunya ke sekolah. Uang itu disumbangkan untuk membantu siswa yang kurang mampu di sekolahnya.

SURYA.co.id | BANYUWANGI -  Bocah yang akrab disapa Roy itu, tiap hari menyisihkan Rp 1.000 untuk disumbangkan di sekolah.

Tiap hari, di SD Al Uswah, siswa dari keluarga yang mampu secara ekonomi, memang disarankan menyisihkan sebagian uang saku untuk disumbangkan melalui program Siswa Asuh Sebaya (SAS).

SAS merupakan program Pemkab Banyuwangi untuk mengumpulkan dana sukarela dari siswa yang mampu, lalu diberikan untuk teman sekolahnya dari keluarga yang kurang mampu. Pengelolaannya diserahkan pada sekolah.

Awalnya, sumbangan untuk SAS di SD Al Uswah, hanya dilakukan tiap Jumat. Kini dilakukan tiap hari, tapi tidak ada paksaan.

Tiap tiga bulan sekali, hasil dari SAS di sekolah ini diumumkan pada petemuan wali murid. Mulai dari jumlahnya, dan peruntukannya untuk apa.

”Bunda, tadi aku nyumbang Rp 1.000 ke sekolah,” kata Roy yang ditirukan Netty Reisyana Kusuma Dewi, ibundanya.

Tiap hari, Netty memberikan uang saku Rp 5.000 pada anaknya. Ini karena sekolah Roy semi fullday school. Jam sekolah siswa kelas 1 dan 2 selesai pukul 13.00. Sedangkan kelas 3 hingga 6, selesai pukul 14.00. Ketika ada ekstrakurikuler pulang pukul 16.30.

Meski tahu di sekolah tempat anaknya belajar terdapat program SAS, Netty sengaja tidak memberikan uang khusus untuk disumbangkan. Perempuan yang bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemkab Banyuwangi itu, membebaskan anaknya untuk mengelola uang sakunya. Netty ingin anaknya belajar bertanggujawab terhadap apa yang dimilikinya.

”Anak saya selalu menceritakan untuk apa saja uang sakunya. Tiap hari dia menyumbang Rp 1.000 untuk SAS, sisanya untuk jajan di sekolah,” kata Netty.

Halaman
123
Penulis: Haorrahman
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help