Opini

Bolehkah Kiai Berpolitik?

Di usianya yang hampir satu abad, bagaimana cara NU menjaga eksistensi menjadi "candradimuka" bagi calon pemimpin berkualitas di pelosok negeri terseb

Bolehkah Kiai Berpolitik?
surabaya.tribunnews.com/Nuraini Faiq
KH Mutawakkil Alallah 

Oleh : Ketua PWNU Jatim, KH Mutawakkil Alallah

Di kancah perpolitikan Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) telah melahirkan banyak pemimpin yang tersebar hampir di seluruh pelosok Nusantara. Termasuk, Jawa Timur.

Lalu, di usianya yang hampir satu abad, bagaimana cara NU menjaga eksistensi menjadi "candradimuka" bagi calon pemimpin berkualitas di pelosok negeri tersebut? Berikut penjelasannya.

Menjadi organisasi keagamaan dengan basis umat yang besar bukan sebuah hal yang mudah.

Selama puluhan tahun, NU terus bertahan dengan basis umat yang tak menurun, namun terus berkembang.

NU memiliki dua kekuatan. Pertama adalah kultur kuat yang ditanam oleh para kiai besar.

Kedua, karena karomah para aulia yang sekaligus menjadi owner bagi NU. Selama kedua hal tersebut masih dijaga, maka NU akan terus menunjukkan eksistensinya.

Satu di antara contoh kultur NU yang ditanam oleh Kiai sepuh adalah lima karakter wajib seorang NU. Patokan ini diajarkan oleh KH Mahfudz Siddiq. Beliau adalah ayah dari Ahmad Shiddiq, Rais Am PBNU.

Kelima karakter tersebut, pertama, jujur.  

Kedua, bisa dipercaya dan memenuhi janji. Ketiga, gotong royong.  Keempat, dapat melindungi orang lain serta memberi pengayoman, sedangkan yang kelima adalah ajeg atau konsisten disiplin.

Halaman
12
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved