Surya/

Traveling

VIDEO - Museum Islam Pertama di Indonesia

Wahana museum ini semakin melengkapi khasanah pengetahuan dan wawasan perkembangan agama Islam di dalam dan luar negeri.

Reportase : Wiwit Purwanto

SURYA.co.id | Berbagai peninggalan sejarah Islam mulai dari jaman kerajaan di Timur Tengah, Asia hingga Indonesia kini dapat dilihat secara apik di di Museum Islamic Art, di kompleks Wisata Bahari Lamongan (WBL).

Peninggalan sejarah itu mulai dari Kerajaan Ottoman Turki, masa kerajaan Islam Mughal India, kerajaan China Dinasti Ming hingga penyebaran agama Islam di Tanah Air Indonesia.

Wahana museum ini semakin melengkapi khasanah pengetahuan dan wawasan perkembangan agama Islam di dalam dan luar negeri.

Museum yang baru dibuka akhir Desember 2016 lalu, memiliki keistimewaan selain koleksi dan satu-satunya di Indonesia itu juga dikemas dengan teknologi tiga dimensi (3D).

Dengan teknologi 3 D ini pengunjung selain bisa melihat juga bisa mengambil gambar 3D dengan menscan kode barcode yang ada di gambar museum.

"Di museum ini menerapkan aplikasi berbasis teknologi Augmanted Reality (AR) yang berfungsi untuk men-scan gambar yang berkode di dalam museum," kata Manajer Museum, Yulianto.

Museum ini terbagi dalam tiga zona. Pertama ada ruangan theater, di ruangan ini ada pemutaran film sejarah islam dunia yang berdurasi 15 menit.

Zona kedua menampilkan koleksi sejarah Islam masa kerajaan Ottoman, Masa Kerajaan Islam Mughal India, Kerjaan China Dinasti Ming, dan penyebaran agama islam di Tanah Air Indonesia.

"Zona ini adalah inti dari museum diperuntukkan untuk edukasi," jelas Karim, pemandu museum.

Di zona kedua ini ada koleksi yang sangat menarik yakni pedang Zulfikar Shamsi yang menjadi peralatan perang Kerajaan Ottoman. Selain itu juga ada baju perang terbuat dari bahan besi baja lengkap dari penutup kepala (helm), baju baja, sepatu baja hingga pelindung tulang kering.

Pada zona ketiga lebih menekankan hiburan dengan menampilkan diorama yang banyak dimanfaatkan untuk berfoto pengunjung.

Penulis: Wiwit Purwanto
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help