Surya/

Liputan Khusus Pengungsi Syiah Sampang

Kiat Para Pengungsi Syiah Bertahan Hidup: Jadi Buruh Pengupas Kelapa Bergiliran di Puspa Agro

Di bawah terik matahari, Hayatun (20) bejam-jam duduk memisahkan kelapa tua dari batoknya bersama tiga pengungsi syiah lain.

Kiat Para Pengungsi Syiah Bertahan Hidup: Jadi Buruh Pengupas Kelapa Bergiliran di Puspa Agro
surya/aflahul abidin
TUMPUKAN KELAPA – Ribuan butir kelapa tua bersabut tertumpuk di pusat beras dan palawija Pasar Induk Modern Agrobis, Puspa Agro, Jumat (24/3) siang. Para pekerja pengupas kelapa itu adalah para pengungsi Syiah. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Sejak tinggal di Rusun Jemundo, Kabupaten Sidoarjo, para pengungsi Syiah Sampang praktis kehilangan mata pencaharian dan mengandalkan uang jatah hidup (jadup) dari Pemprov Jatim.

Beberapa dari mereka mencoba bekerja seadanya. Salah satunya menjadi pengupas kelapa di Puspa Agro, satu kompleks dengan rusun yang menjadi tempat tinggal pengungsi Syiah Sampang.

Ribuan butir kelapa tua bersabut tertumpuk di pusat beras dan palawija Pasar Induk Modern Agrobis, Puspa Agro, Jumat (24/3/2017) siang.

Di bawah terik matahari, Hayatun (20) bejam-jam duduk memisahkan kelapa tua dari batoknya bersama tiga pengungsi syiah lain.

“Baru dua minggu pekerjaan mengupas kelapa ada lagi. Sebelumnya lama tidak ada,” kata Hayatun.

Mereka bekerja dalam kelompok-kelompok kecil berdasarkan pembagian tugas. Para laki-laki menaikturunkan kelapa dari truk-truk.

Sedang kaum perempuan, selain mengelupas kelapa, juga menjemur potongan kelapa-kelapa tua sebelum diolah kembali.

Pekerjaan sebagai pengupas kelapa sudah dijalani lama oleh para pengungsi yang tinggal hampir lima tahun di penampungan.

Sebelumnya, pekerjaan ini dilakukan di salah satu sudut tanah lapang sebelah rusun kembar, tempat tinggal mereka.

Namun, karena pemilik usaha kelapa yang mengalami kesulitan, suplai kelapa berhenti. Otomatis salah satu sumber penghidupan lebih dari 80 kepala keluarga itu pun ikut tersendat.

Kini, Hayatun dan para pengungsi lain harus berjalan beberapa puluh meter menuju tempat mengupas kelapa yang baru.

Mereka berangkat dari rumah sekitar pukul enam pagi dan baru pulang siang hari.

Menurut Hayatun, tiap pengungsi tak bekerja tiap hari di sana. Kebutuhan pekerja kupas yang terbatas dan jumlah pengungsi menganggur terlampau banyak membuat mereka saling berbagi waktu kerja. Itu salah satu cara mereka buat saling berbagi rezeki.

Dengan tenaga kerja sebanyak itu, ribuan butir kelapa siap kupas bisa tertangani hanya dalam waktu singkat. Hayatun bilang, pekerjaan itu bisa diselesaikan hanya dalam tiga sampai empat hari.

Setelah itu, mereka tinggal menunggu truk pengangkut kelapa bersabut lain datang. Jika tak ada truk yang datang, mereka akan menganggur lagi sambil menunggu pekerjaan lain yang belum pasti. Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu.

“Saat pekerjaan mengupas kelapa sebelumnya terhenti, kami sempat bekerja mengemas stroberi. Tapi itu tidak lama dan akhirnya terhenti juga,” ujar perempuan yang baru setahun menikah itu.

Suaminya yang juga pengungsi Syiah, Humaidi, pun turut bekerja di tempat yang sama hari itu. Dia bersama para pengungsi pria lain tampak sibuk di belakang bak truk.

Dari mengupas kelapa, para pengungsi mendapat imbalan Rp 400 per kilogram. Per hari, satu orang bisa mengupas hingga seratusan kilogram. Jika ditotal dalam bentuk rupiah, pendapatan mereka antara Rp 20.000 hingga Rp 50.000 per hari.

“Dibayarnya per minggu. Pernah dapat Rp 150.000, Rp 200.000. Tidak mesti,” ungkapnya.

Rohah, pengungsi lain yang bekerja di tempat yang sama, mengatakan imbalan yang didapat dari mengupas kelapa cukup membantu penghidupan sehari-hari.

Apalagi selama hampir tiga bulan terakhir, dana jatah hidup Rp 709.000 per jiwa dari Pemprov Jawa Timur telat cair.

Uang yang didapat dari pekerjaan itu cukup membantu mencukupi biaya makan.

Hayatun meresa, mencari pekerjaan sebagai pengungsi lumayan susah. Untuk bekerja di bidang tertentu, mereka tak punya modal. Modal yang dia maksud minimal ijazah sekolah.

Padahal, ijazah dan surat-surat penting lainnya ludes terbakar beberapa tahun lalu taktkala kerusuhan.

“Punyaku juga terbakar. Mau kerja apa kalau tidak punya ijazah?” keluhnya.

Dalam beberapa pekan sekali, dia masih pulang kampung untuk mengunjungi keluarga yang tak ikut terusir.

Kadang, ia pergi mengendarai motor bersama sang suami. Saat pulang sendiri, ia naik kendaraan umum. Hayatun masih berharap kejelasan sikap pemerintah terkait nasib para engungsi yang masih terkatung-katung. (aflahul abidin)

Penulis: Aflahul Abidin
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help