Hukum Kriminal Surabaya

Tipu Rp 2 Miliar, Buron Mafia Tanah Ditangkap di Masjid Al Akbar, begini Ceritanya

Sutomo merupakan buron polisi sekitar setahun atas tindakan penggelapan dan penipuan uang Rp 2 miliar.

Tipu Rp 2 Miliar, Buron Mafia Tanah Ditangkap di Masjid Al Akbar, begini Ceritanya
net
Ilustrasi 

SURYA.co.id | SURABAYA - M Sutomo Hadi harus berurusan dengan polisi lantaran aksi penggelapan dan penipuan.

Pria berusia 40 tahun asal Jl Kalijudan Taruna Surabaya ini diringkus anggota Satreskrim Polrestabes Surabaya di Masjid Al Akbar, Sabtu (25/3/2017).

Sutomo merupakan buron polisi sekitar setahun atas tindakan penggelapan dan penipuan uang Rp 2 miliar milik korban Probo Wahyudi.

Uang sebesar itu merupakan pembelian tanah pada pertengahan tahun 2015.

Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Shinto Silitonga mengatakan, tersangka merupakan mafia tanah yang sudah dilaporkan korban sejak satu tahun lalu. Uang korban atas pembelian tanah di daerah Kenjeran sebesar Rp 2 miliar digelapkan oleh pelaku.

"Kami menangkap tersangka saat berada di Masjid Al Akbar hari Sabtu (25/3/2017) kemarin. Kami masih terus melakukan penyidikan," sebut Shinto, Minggu (25/3/2017).

Shinto mengatakan, penggelapan dan penipuan dilakukan tersangka Sutomo bermula ketika korban Probo Wahyudi meminta bantuan mencarikan tanah.

Akhirnya Sutomo menawarkan tanah di daerah Kenjeran yang dikatatan milik Cicik Permatadias.

"Oleh korban, tanah disepakati dibeli dengan harga Rp 2 miliar," aku Shinto.

Untuk pembayaran, korban memberi lebih dulu Rp 1,3 miliar sebagi uang muka. Kemudian sisanya dijanjikan dibayar korban setelah proses pembutan surat hak milik (SHM) selesai.

Kepada korban, kata Shinto, Sutomo menjanjikan kepengurusan SHM akan beres selama enam bulan. Korban pun memberikan uang Rp 1 miliar kepada tersangka untuk menyelesaikan urusan SHM.

"Tapi, tersangka justru membawa kabur uang yang sudah diberikan korban," terang Shinto.

Dari hasil penyidikan, lanjut Shinto, Sutomo juga merakayasa ikatan jual beli tanah (IJB). Sejatinya tanah tersebut bukan milik Cicik Permatadias, melainkan milik Puji Astutik.

"Namun, tanah tersebut ditawarkan kepada korban seharga Rp 2 miliar. Ini fakta yang ditemukan penyidik," ucap Shinto.

Atas temuan fakta tersebut, Cicik juga ditetapkan sebagai tersangka. Lantaran ikut bekerja sama dalam kasus ini. Namun, polisi belum menemukan keberadaan Cicik dan statusnya buron (DPO).

Selain itu, penyidik juga mengetahui tersangka Sutomo merupakan residivis mafia tanah. Dia pernah ditangkap dan dipenjara beberapa tahun lalu atas kasus yang sama.

Penulis: Fatkhul Alami
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help