Berita Pamekasan Madura

Anggaran Mamin Bupati Rp 940 Juta Per Tahun Menuai Demo Komunitas Peduli Reformasi

Koordinator lapangan Zainul Hasan, menilai dana mamin yang bersumber dari anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) 2016 itu, dinilai terlalu besar.

Anggaran Mamin Bupati Rp 940 Juta Per Tahun Menuai Demo Komunitas Peduli Reformasi
surya/muchsin
Suasana demo memprotes mamin bupati di Kantor Bupati Pamekasan, Rabu (22/3/2017). 

SURYA.co.id | PAMEKASAN – Sekitar 50 pemuda yang tergabung dalam komunitas Muda Peduli Reformasi (KMPR) Pamekasan, unjuk rasa ke kantor Pemkab Pamekasan, di Jl Kabupaten, Pamekasan, Rabu (22/3/2017).

Pengunjuk rasa membawa sejumlah poster dan mengusung miniatur keranda itu, ingin bertemu Bupati Achmad Syafii, untuk mempertanyakan besarnya anggaran makan dan minum (mamin) bupati, setiap tahun yang besarnya Rp 940 juta.

Dalam orasinya, koordinator lapangan Zainul Hasan, menilai dana mamin yang bersumber dari anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) 2016 itu, dinilai terlalu besar tidak sesuai dengan kondisi perekonomian masyarakat Pamekasan.

Selama mereka berorasi di depan pintu kantor pemkab, dengan lantang mereka mendesak Bupati Achmad Syafii agar ke luar menemui mereka, untuk minta penjelasan dan pertanggungjawaban terhadap besarnya anggaran mamin.

Upaya mereka untuk bertemu bupati tidak berhasil. Sebab bupati saat itu sedang menghadari bersama sejumlah pejabat di Pendopo Ronggosukowati. Namun mereka tidak percaya dan meminta aparat Polres Pamekasan, yang berjaga di depan pintu membiarkan mereka masuk ke ruangannya, ingin melihat sendiri apakah bupati benar-benar ada acara atau ada di dalam ruangan.

“Kami minta izin kepada bapak-bapak kepolisian untuk membiarkan kami masuk ke ruangan bupati. Kami ingin membuktikan bupati ada di dalam atau tidak,” kata Zanul Hasan.

Kemudian Kabag Umum Pemkab Pamekasan, Joko Trisulo menemui Zainul Hasan, menjelaskan keberadaan bupati yang sedang memimpin rapat di pendopo. Tetapi Zainul Hasan tidak percaya dan meminta surat yang menerangkan jika bupati saat itu sedang rapat.

Kemudian Joko Trisulo menyuruh stafnya untuk mengambil kartu undangan yang menyatakan, jika di hari itu bupati menggelar rapat.

“Kawan-kawan betul, ini undangan resmi bukan rekayasa. Jika bupati saat ini ada acara. Kalau begitu, mari kita sekarang bersama-sama mendatangi pendopo untuk menemui bupati langsung,” kata Zainul Hasan, memberitahu pada pengunjuk rasa.

Semula, pengunjuk rasa membubarkan diri dan berteriak sambil mengajak teman-temannya untuk menemui bupati. Tetapi akhirnya Zainul Hasan, meminta mereka kembali dan menyarankan agar menunggu selesainya rapat.

Rupanya karena mereka terlalu lama menunggu bupati yang masih memimpin rapat, akhirnya pengunjuk rasa membubarkan diri dan pulang.

Penulis: Muchsin
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help