Berita Surabaya

Terdakwa Penipuan Rp 14 M Mendekat ke Hakim Sambil Merengek, ini Penyebabnya

Vonny Endrawati, terdakwa dalam kasus penipuan senilai Rp 14 miliar menghampiri hakim sambil merengek. Ternyata, ini yang dia lakukan..

Terdakwa Penipuan Rp 14 M Mendekat ke Hakim Sambil Merengek, ini Penyebabnya
surabaya.tribunnews.com/Anas Miftakhudin
Terdakwa Vonny saat maju ke meja majelis hakim untuk mengutarakan penangguhan penahanannya dan pundaknya ditepuk hakim Hariyanto, Senin (20/3/2017). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Terdakwa penipuan biji plastik senilai Rp 14 miliar, Vonny Endrawati merengek minta penangguhan penahanan dalam sidang lanjutan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin (20/3/2017).

Terdakwa yang menjadi Direktur Utama (Dirut) PT Semesta Raya Abadi Jaya mengajukan penangguhan penahanan kepada majelis hakim yang dipimpin Hariyanto SH menjelang sidang berakhir. Sebelum minta penangguhan penahanan, Vonny melalui kuasa hukumnya, memberikan surat keterangan sakit kepada majelis hakim.

"Saya sampaikan surat dari dr Arifin (salah satu dokter umum yang bertugas di Rutan Kelas I Surabaya di Medaeng, Sidoarjo)," ujarnya kepada hakim Hariyanto.

Tak sampai disitu saja, Vonny yang duduk di kursi pesakitan berkali-kali mendesak Hariyanto untuk menyetujui penangguhan penahanan yang diajukannya. "Dibantu pak, ya pak ya," rengek Vonny kepada hakim Hariyanto.

Mendapat desakan dari Vonny, hakim Hariyanto lantas bertanya kepada Vonny perihal kondisi kesehatannya saat ini.

"Sekarang sudah sehat kan, masih kuat kan? Ya ya nanti dipertimbangakan. Sudah nanti saja biar sidangnya cepat selesai," tutur Hariyanto.

Tak terima dengan jawaban Hariyanto, Vonny langsung berdiri dari kursi terdakwa dan maju ke meja majelis hakim. Di meja majelis hakim, Vonny terlihat mengatakan sesuatu kepada hakim Hariyanto.

"Sudah-sudah nanti dipertimbangkan. Gak enak banyak orang," terang Hariyanto sembari memegang pundak Vonny.

Sementara itu, fakta baru yang terungkap dalam persidangan kasus, sebelum kasus ini dilaporkan ke polisi, Rasono Ali Hardi (korban) telah dua kali mensomasi Vonny lantaran biji plastik yang dipesan tak kunjung dikirim.

"Dua kali somasi dikirim Pak Rasono. Somasi intinya, dia (Rasono) tanya mengapa uang sudah masuk, tapi kenapa barang (biji plastik) belum juga dikirim," ujar saksi Yustina, karyawan PT Semesta Raya Abadi Jaya kepada majelis hakim.

Dalam sidang lanjutan ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Fathol Rasyid SH menghadirkan empat saksi.

Dua saksi merupakan anak buah Vonny di PT Semesta Raya Abadi Jaya, satu saksi dari Bank Danamon, dan saksi merupakan Bernard Iskandar Dinata, putra Vonny. Keempat saksi banyak mengaku lupa saat diperiksa oleh majelis hakim.

Kejadian ini berawal di kantor PT Cahaya Mas Makmur Jalan Cempaka pada Maret 2016. Dalam dakwaan dijelaskan, Vonny sebagai Direktur Utama PT Semesta Raya Abadi Jaya menawarkan biji plastik dengan harga murah dengan kualitas bagus kepada Paula Lina Luis istri dari Rosono Ali Hardi pemilik PT Cahaya Mas Makmur yang bergerak di bidang usaha produksi kantong plastik.

Tertarik dengan penawaran itu, Paula Lina Luis membeli biji plastik dan membayar secara berkala kepada Vonny dengan nilai total sebesar Rp 14 miliar. Namun biji plastik yang dipesannya tak kunjung dikirim oleh Vonny. Atas perbuatannya, Vonny dijerat pasal 372 KUHP dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Penulis: Anas Miftakhudin
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help