Citizen Reporter

Surat dari Lumbis Ogong

tak harus saling mengenal, atas nama persahabatan, pelajar SMPN 3 Lumbis Ogong di Kalimantan Utara bersurat dengan pelajar SMP At Tibyan Pasuruan..

Surat dari Lumbis Ogong
fuad anggrianto/citizen reporter dokumentasi
Pelajar SMPN 3 Lumbis Ogong, Kalimantan Utara 

Reportase Fuat Anggrianto
Guru Bahasa Indonesia SMP At Tibyan Pasuruan

BELAJAR yang menyenangkan adalah saat bisa mengenal budaya orang lain. Ketika anak belajar tentang budaya, mereka akan lebih tertarik dan paham jika mereka langsung belajar pada si pengampu budaya. Bagaimana jika pembelajaran budaya yang diajarkan adalah budaya yang sebelumnya tak pernah didengar karena terkendala jarak? 

Salah satu cara paling sederhana ialah saling berkirim surat. Itu yang dilakukan para siswa SMPN 3 Lumbis Ogong di ujung Kalimantan Utara saat ingin mengenal dan mengenalkan budaya mereka dengan siswa SMP At Tibyan di Pasuruan, Jawa Timur.

Dengan bantuan guru SM3T surat dari siswa SMPN 3 Lumbis Ogong akhirnya sampai di Pasuruan tepat waktu. Semua siswa sangat bersemangat untuk membalas surat yang mereka dapatkan, mereka mendapatkan ilmu baru dimana budaya yang jauh di sana bisa mereka ketahui lewat tulisan langsung dari pelaku budayanya.

Surat yang dikirim berisi identitas dan kegiatan keseharian mereka. Yang satu mengenalkan budaya pondok pesantren, yang lain budaya perbatasan negara.

Salah satunya, isi surat dari siswa bernama Lusi, “kalau kami di sini susah, kami jalan ke sekolah harus ikut perahu setiap hari.”

Kemudian cuplikan balasan dari Laili, “saya mandi pukul 03.30 WIB tapi masih ngantre. Saya di sini mondok dan juga sekolah.”

 Dari kegiatan surat menyurat yang mereka lakukan, dapat diketahui, terdapat budaya yang sangat berbeda dimana ada budaya pondok pesantren dan ada budaya di perbatasan negara. Di pondok pesantren kehidupan mereka dituntut untuk harus dan belajar sederhana, kegiatan yang padat demi menuntut ilmu.

Mereka harus menetap di pondok pesantren tanpa pulang ke rumah. Bahkan, untuk mandi saja mereka harus mengantre. Sedangkan siswa di perbatasan negara harus hidup secara sederhana dan penuh perjuangan. Untuk pergi ke sekolah saja mereka harus naik perahu. Dari sini mereka bisa mengetahui, berbagi pengalaman, dan kebiasaan  yang cukup berbeda.

Walaupun sebelumnya dan mungkin seterusnya mereka tidak pernah bertemu, namun mereka sudah memliki keakraban sehingga bebas menuliskan budaya dan kegiatan tanpa ragu untuk teman baru mereka di Lumbis Ogong.

Harapan dari surat-menyurat sederhana ini dapat meningkatkan keinginan mereka untuk lebih aktif di dunia literasi dan mengetahui lebih banyak tentang budaya di luar sana.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help