Citizen Reporter

Mengadopsi Semangat Pantang Menyerah Jepang

Jepang pernah hancur namun bisa kembali bangkit dan menguasai teknologi dunia, apa rahasianya? yuk meniru Jepang..

Mengadopsi Semangat Pantang Menyerah Jepang
anang mulyanto/citizen reporter
Siswa SD Muhammadiyah 4 Surabaya berkunjung ke konsulat Jepang 

Reportase Anang Pujimanto
Staf TU SD Muhammadiyah 4 Surabaya

KAORI MOROHIRA, staf Konsulat Jenderal Jepang di Surabaya, tersenyum senang saat menyambut kedatangan 60 siswa SD Muhammadiyah 4 Surabaya di aula Konsulat Jenderal Jepang, Kamis (9/3/2017).

“Yokoso” ucap Kaori ketika menyambut kedatangan siswa-siswa. Kedatangan siswa-siswa yang berjumlah 60 itu merupakan bagian dari kegiatan pelatihan Bahasa Jepang yang diadakan oleh SD Muhammadiyah 4 Surabaya pada 9 Maret 2017.

Kaori kemudian menerangkan kepada siswa-siswa tentang Jepang. “Anak-anak saya akan menjelaskan kepada kalian tentang pendidikan di Jepang, kebudayaan Jepang dan musim-musim apa saja yang ada di Jepang” ujar Kaori dengan Bahasa Indonesia yang cukup lancar.

Perempuan kelahiran 30 Desember 1984 itu menerangkan, Jepang juga pernah mengalami masa-masa suram dan saat itu kondisi di Jepang memprihatinkan.

“Jepang kalah dalam perang dunia ke-2, Kota Hiroshimo dan Nagasaki hancur karena bom atom  Amerika, sekolah-sekolah hancur," kisahnya.

Tapi, lanjut Kaori, Jepang tak mau miskin terus-menerus. Bangsa Jepang ingin bangkit untuk menjadi negara maju dan menguasai teknologi, "Jepang kemudian  mengirim pemuda-pemuda ke eropa untuk belajar teknologi, setelah lulus mereka kembali ke Jepang dan menerapkan ilmunya untuk membangun Jepang. Nah, kalau Indonesia ingin menjadi negara maju, tirulah Jepang,” jelas Kaori.

Jenjang pendidikan di Jepang sama dengan di Indonesia, jelas Kaori, yaitu menggunakan sistem 6-3-3 (6 tahun SD, 3 tahun SMP, 3 tahun SMA) dan perguruan tinggi.

Di Jepang sejak anak-anak sudah diajarkan mandiri. Di setiap kelas terbagi kelompok-kelompok yang memiliki tugas tertentu. “Ada kelompok yang bertugas membersihkan kelas, memelihara hewan, hingga kelompok memasak, karena sekolah di Jepang tak ada kantin, kalau istirahat makan siswa memasak sendiri,” kisah Kaori.

Bedanya dengan Indonesia, Jepang memiliki empat musim. Yani, musim semi atau haru, musim panas atau natsu, musim gugur atau aki, dan musim dingin atau fuyu. "Sekolah di Jepang juga meliburkan siswa-siswanya ketika  musim-musim tersebut,” tuturnya.

Kaori juga mengenalkan aneka permainan tradisional Jepang. Ada daruma, wanage, dan hagoita yang juga diajarkan di sekolah.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help