Surya/

Berita Pasuruan

Kereta Kelinci Ini Nekat Melintas dari Pandaan Menuju Sidoarjo, yang Terjadi Kemudian. . .

Kereta kelinci bernopol W 8042 FG ini melintas di Jalan Raya Pandaan-Malang hendak menuju Candi, Sidoarjo.

Kereta Kelinci Ini Nekat Melintas dari Pandaan Menuju Sidoarjo, yang Terjadi Kemudian. . .
surya/galih lintartika
Polisi menilang kereta kelinci yang mengangkut orang karena dianggap membahayakan. 

SURYA.co.id | PASURUAN - Sebuah mobil elf yang sudah dimodifikasi menyerupai kereta kelinci ditilang Unit Lalu Lintas Polsek Pandaan, Minggu (19/3/2017) sore.

Kereta kelinci bernopol W 8042 FG ini ditilang saat melintas di Jalan Raya Pandaan-Malang depan Taman Dayu, Pandaan.

Mobil ini mengangkut kurang lebih 20 orang mulai dari ibu - ibu dan anak kecil, rombongan dari warga Desa Candi, Kecamatan Candi.

Secara aturan, kendaraan ini dilarang beroperasi karena tidak memenuhi standar kelayakan berkendara. Ada beberapa item yang dilanggar.

Alhasil, kereta kelinci ini pun diamankan di Pos Lantas Polsek Pandaan depan Masjid Cheng Hoo.

Sang sopir, M Zaini , dan ibu-ibu bersama anaknya terpaksa gigit jari. Mereka terpaksa harus pulang ke Candi naik kendaraan umum.

Kanit Laka Lantas Polsek Pandaan AKP A Shukiyanto mengatakan, kendaraan ini jelas melanggar beberapa aturan dan ketentuannya yang ada.

"Dia melanggar Pasal 281 tentang SIM, pasal 288 ayat 3 tidak bisa menunjukkan buku KIR, pasal 288 ayat 1 tidak memiliki STNK Undang - undang No 22 Tahun 2009 tentang lalu lintas," katanya kepada SURYA.co.id.

Shukiyanto menjelaskan, sopir juga tidak memiliki izin trayek. Menurutnya, kendaraan ini ilegal.

"Kendaraan seperti ini seharusnya ada izin trayeknya. Biar jelas tujuannya dan arahnya kemana. Kami juga tilang dia soal tidak punyanya izin trayek tersebut," tandasnya.

Dia menjelaskan, kendaraan ini juga melanggar Pasal 277 ayat 1 UU No 22 Tahun 2009 tentang lalu lintas. Yakni mengubah fungsi mobil elf menjadi mobil penumpang.

"Tapi, kalau menerapkan pasal ini belum tentu sopir yang salah. Soalnya sopir mengaku membeli mobil ini sudah jadi seperti itu. Dia tidak memodifikasinya," tandasnya.

Kendati demikian, lanjut Shukiyanto, apa yang dilakukan sopir ini tak patut dicontoh.

Ia menjelaskan, standarisasi kendaraan layak jalannya tidak dipenuhi.
"Bisa membahayakan penumpangnya, kalau tidak hati-hati. Dampaknya bisa menimbulkan kecelakaan. Kami himbau agar tidak mengulangi perbuatannya lagi," pungkasnya.

Penulis: Galih Lintartika
Editor: Titis Jati Permata
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help