Liputan Khusus Bocah Berprestasi

Taylor Furtick, Pengajar Piano AS Ingin Ubah Budaya Guru Musik dalam Mengajar

Taylor Furtick, pengajar piano dari AS, didatangkan jauh-jauh ke Surabaya untuk menyiapkan kurikulum kursus piano. Ini yang dia inginkan...

Taylor Furtick, Pengajar Piano AS Ingin Ubah Budaya Guru Musik dalam Mengajar
surabaya.tribunnews.com/Aflahul Abidin
Taylor Furtick (duiduk) dan General Manager The Piano Institute Djoko W Kaharudin saat memamerkan permainan piano, Jumat (10/3/2017). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Kelas-kelas di The Piano Institute di Jalan Dharmahusada Indah Timur M-12/250, Surabaya, tampak sibuk, Jumat (10/3/2017) siang. Para pengajar lokal tampak telaten membimbing para siswa yang saat itu kebetulan mayoritas anak-anak.

Sementara Taylor Furtick, sibuk juga dengan tugasnya sebagai Head of Piano Department. Taylor Furtick adalah pengajar asal Amerika Serikat (AS).

Sebelum mengajar di The Piano Institute, dia pernah juga mengajar piano di berbagai tempat di negara asalnya, mulai dari Georgia, California, New York, hingga Michigan.

“Mulai dari anak usia tujuh tahun, anak sekolah, mahasiswa, mahasiswa magister, sampai orang berusia 50 tahun,” kata Furtick. menjelaskan pengalamannya.

Di tempat mengajarnya yang baru ini, Furtick berkonsentrasi pada penyusunan kurikulum untuk mengembangkan standar pembelajaran lokal menjadi internasional. Ia bertekad menularkan ilmunya ke masyakat Surabaya.

“Musik adalah campuran ide. Musik tidak hanya muncul dari satu tempat,” lanjut dia.

Ia melihat ada perbedaan pembelajaran musik di Indonesia dan di AS. Di negara adidaya itu pembelajaran musik tidak berdiri sendiri. Di sana musik telah berpadu dengan pembelajaran sastra, tari, dan seni lainnya. Dengan bagitu, pembelajaran musik lebih bersifat holistik.

Menurutnya, pendidikan pelbagai macam seni itu tidak bisa diajarkan hanya satu saja, sementara yang lain sama sekali tak dipelajari. Ia menyebut, musik membentuk pemikiran kritis. Jadi, pelajaran apapun yang membutuhkan pemikiran kritis perlu penggabungan ke musik. Termasuk matematika dan sains.

Nah, hal itulah yang ia coba susun dalam kurikulum di sekolah piano itu.

Salah satu cara pembelajaran yang ingin ia ubah adalah budaya guru dalam mengajar cara bermain musik, dalam hal ini piano.

“Guru bilang, ’Ini salah, itu salah, yang benar begini’. Itu bagus karena sudah digunakan sejak lama. Tapi, pembelajaran musik hanya satu jam seminggu. Kalau guru hanya menyalah-nyalahkan murid, ya, mereka bakal cepat lupa. Tidak ada yang masuk ke otak,” imbuhnya.

Pembelajaran yang ditekankan Taylor di tempat itu, yakni berbasis pemahaman. Ia bilang, cara itu bisa membuat para murid paham dan mampu mengajarkan musik pada diri masing-masing sesuai dengan persepsi dan karakteristik masing-masing.

Ia membuktikan hal tersebut dengan perubahan karakteristik murid-murid di sekolah itu. Contohnya, dari mereka yang awalnya pemalu menjadi percaya diri.

The Piano Istitute sengaja mendatangkan Taylor untuk untuk merealisasikan salah satu misi yang diemban.

“Kami mau mengembangkan sekolah musik ini agar tidak stagnan. Kami berinovasi dengan mendatangkan Taylor. Dengan mendatangkan guru terbaik, konsumen dan perusahaan bisa saling berjalan,” kata General Manager The Piano Institute Djoko W Kaharudin. Di tempat itu, Djoko lebih banyak mengurus soal manajemen.

Salah satu tugas yang sedang dijalankan Taylor adalah menyusun kurikulum untuk proses akreditasi di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Dia juga harus menularkan ilmu kepada para pengajar lokal agar ilmu yang akan diturunkan kepada para siswa sejalan antara satu dengan yang lain. “Ke depan kami rencana akreditasi internasional,” pungkas Djoko optimistis. 

Penulis: Aflahul Abidin
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help