Liputan Khusus Bocah Berprestasi

Psikolog : Jangan Cederai Emosi Anak

Menurut Rudi Cahyono, Psikolog Anak dari Universitas Airlangga, mengarahkan anak adalah hal penting, tetapi jangan jadikan itu cuma obsesi orangtua.

Psikolog : Jangan Cederai Emosi Anak
ist
Psikolog Anak Universitas Airlangga, Rudi Cahyono 

Catatan Psikolog Anak Universitas Airlangga, Rudi Cahyono

SURYA.co.id | SURABAYA - Sebagian anak memang menunjukkan bakat istimewa sejak dini. Tapi tidak semua anak segera menampakkannya. Untuk anak-anak pada umumnya, biasanya baru menampakkan kemampuan tertentu atau minat spesifik pada usia 7 tahun atau 8 tahun ke atas.

Jika memang menunjukkan bakat istimewa, maka tidak masalah jika bakat anak dipupuk, asalkan tidak mengabaikan sisi-sisi anaknya yang memang kadang multiminat atau lebih suka hal-hal yang sifatnya permainan. Lebih singkatnya masih suka bermain. Asal pemupukan bakatnya bukan ala orang dewasa, itu tidak masalah.

Hanya saja identifikasinya perlu dilakukan dengan cermat. Di usia 2 tahun-an, memang sangat jarang anak menunjukkan kemampuan spesifik. Jika ada yang seperti itu, boleh dibilang itu adalah bakat istimewa. Maka boleh saja dipupuk bakatnya.

Bagaimana dengan les? Nah, kembali lagi kepada cara-cara pemupukan bakatnya. Jika dilakukan sesuai dengan karakteristik anak-anak yang multiminat dan suka bermain, maka boleh saja. Jika di-drill, pada sebagian anak hal itu justru malah mencederai emosinya dan menjadi pengalaman traumatik tersendiri.

Boleh saja kalau memang dipupuk dengan upaya yang keras, tetapi perlu dikonsultasikan kepada psikolog anak atau ahli pengembangan bakat, karena upaya pemupukan bakat pada anak sangat khas.
Jika anak sejak dini memang menunjukkan "penyimpangan", beda dengan anak seumurannya, maka upaya drilling bisa jadi tidak masalah.

Tapi, perlu diperhatikan sisi-sisi anak-anaknya. Perhatikan waktu istirahat dan variasi kegiatannya.
Tapi untuk anak dengan "penyimpangan positif" ini sangat jarang. Jadi, orangtua perlu hati-hati, jangan sampai terjebak pada asumsinya sendiri, karena merasa anaknya hebat.

Karena banyak orangtua yang terjebak pada pengembangan bakat hanya karena asumsi bahwa anaknya punya bakat tertentu. Padahal, ia memang diarahkan oleh orangtuanya ke situ, bahkan kadang terjadi di bawah sadarnya orangtua. Misalnya karena obsesi yang berlebihan. Obsesinya orangtua tentunya.

Intinya, jangan sampai pengembangan bakat mencederai emosi anak, dan malah menjadi pengalaman traumatik yang tersimpan selamanya.

Sebab, model pendidikan dan pengasuhan yang tepat dari orangtua, tentu dengan tetap berpegang pada karakteristik alamiah anak-anak. Anak-anak biasanya multiminat, suka bermain. Jangan diabaikan bagian ini.

Selain itu, orangtua juga perlu mengidentifikasi bakat anak. Jika memang anak masih menunjukkan multiminat, jangan gegabah memutuskan bahwa anak berbakat di bidang tertentu. Biarkan saja anak mengeksplorasi, karena tidak semua anak menunjukkan bakat spesifik sejak dini. 

Penulis: Samsul Hadi
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help