Surya/

Citizen Reporter

Ngobrol Pintar Ihwal Pundhen Kota Malang

tak sedikit masyarakat yang menilai miring ihwal pundhen.. padahal dari pundhen inilah warisan kearifan lokal ditularkan leluhur kita ..

Ngobrol Pintar Ihwal Pundhen Kota Malang
px
ilustrasi 

Reporter Aditya Fajar Utama
Mahasiswa Prodi Ilmu Sejarah Universitas Negeri Malang


JAM malam museum? Tentu hal itu tak pernah terbesit di benak. Museum seakan tempat sakral yang harus selalu mendapatkan penjagaan ketat siang dan malam karena menyimpan peninggalan sejarah dan budaya yang tak ternilai harganya.

Namun, berbeda dengan Museum Mpu Purwa di Kota Malang. Jumat (3/3) malam, museum masih ramai. Puluhan mahasiswa, budayawan, sejarawan dan masyarakat berkumpul tampak menikmati ngobrol pintar atau ngopi.

Ngopi, baru pertama  dilakukan di Museum Mpu Purwa, digawangi Komunitas Barisan Mbah Sinto. Didukung komunitas lain seperti Pandu Pusaka dan Jelajah Jejak Malang, ngopi membahas pundhen-pundhen di Malang.

Pundhen, istilah dalam bahasa Jawa yang merujuk pada tempat atau makam yang dikeramatkan. Banyak yang menyalahartikan dan memandang pundhen sebagai istilah berkonotasi miring.

Jika dikaji lebih lanjut, pundhen merupakan bentuk perhatian leluhur kita terhadap warisan sejarah dan ekologis yang ada. 

Bondhan Rio, peserta diskusi mengungkapkan, ada tiga istilah yang biasa digunakan masyarakat Jawa untuk menyebut tempat yang mereka keramatkan.

Ada pundhen berupa makam sesepuh wilayah, ada petren yang biasanya berupa sumber air, pohon besar, dan sebagainya. Ada pula istilah petilasan untuk menyebut tempat yang biasa digunakan untuk berkumpul atau tempat yang pernah dikunjungi seseorang. 

Pundhen tak bisa hanya dimaknai sebagai tempat berbau mistis dan klenik. Lebih dari itu pundhen merupakan bentuk kecerdasan leluhur kita. Melaluinya, kita dapat belajar merawat alam dan melestarikan sejarah.

“Leluhur kita telah memikirkan tata letak dan perencanaan wilayah yang cukup matang, di antaranya  penyediaan ruang terbuka hijau yang diwujudkan melalui pundhen,” ungkap Restu Respati dari Jelajah Jejak Malang.

Di akhir ngopi, peserta mengharapkan peran aktif semua pihak, khususnya keluarga dan lembaga pendidikan untuk menghilangkan konotasi negatif pundhen.

Pundhen harusnya dimaknai sebagai peninggalan sejarah yang mampu menjadi pembelajaran bagi semua, khususnya masyarakat modern yang sudah mulai jauh dan kurang menghargai alam.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help