Ngopi Bareng Gus Ipul

SDM Unggul

TULISAN KELIMA GUS IPUL. Kemajuan tidak akan menimbulkan rasa aman ketika ketimpangan menganga. Jalan tengahnya: kemajuan berbasis gotong royong.

SDM Unggul
ist
Ngopi Bareng Gus Ipul 

Tidak ada wilayah, apalagi negara, yang maju tanpa sumber daya manusia yang unggul. Tanpa manusia unggul tidak lahir inovasi. Tanpa inovasi tidak akan ada kemajuan. Dan kemajuan tidak akan menimbulkan rasa aman ketika ketimpangan menganga. Kemajuan berbasis gotong royong yang menjadi jalan tengahnya.

Sejauh mana kita punya SDM unggul?

Salah satunya bisa dilihat dari indeks pembangunan manusia (IPM). Yakni, perbandingan dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup suatu daerah.

Pada tahun 2015, IPM Jawa Timur berada pada 68,95. Angka tersebut memang masih di bawah angka IPM Nasional yang berada di 69,55. Lulusan pendidikan pesantren yang belum diakui sebagai penghitung IPM menjadi salah satu sebabnya.

Padahal amat banyak penduduk Jatim yang hanya mendapatkan pendidikan pesantren. Jika pendidikan pesantren dan melek huruf Arab diakui sebagai salah satu indikator, maka IPM Jatim dipastikan akan melonjak swcara signifikan. Sebab, karena semata-mata berlatar belakang pendidikan pesantren, banyak yang bisa membaca huruf Arab tapi tidak bisa membaca huruf latin.

Program bantuan operasional sekolah (BOS) dan tunjangan untuk guru-guru madrasah diniyah merupakan salah satu upaya mengatasi hal ini. Juga program pembangunan SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) mini di pesantren. Sampai saat ini, sudah 170 SMK mini dibangun di Jatim.

Perkembangan pesantren yang juga menyediakan pendidikan formal akan ikut membantu mendongkrak IPM kita.

Potret keunggulan SDM juga bisa dilihat lewat struktur pendidikan tenaga kerja kita. Sampai dengan Agustus 2016, BPS mencatat ada 19 juta lebih SDM kita yang terserap lapangan kerja di Jatim. Namun, dari jumlah tersebut, sebagian besar berpendidikan sampai SD. Jumlahnya mencapai 8,785 juta.

Berarti lebih dari 40 persen. Struktur tenaga kerja yang demikian jelas tidak kompetitif dibandingkan dengan negara-negara tetangga kita. Meski tenaga kerja yang berpendidikan sampai dengan SD terus menurun dari tahun ke tahun, namun jumlahnya masih sangat dominan. Itu menggambarkan mereka banyak terserap di lapangan kerja tingkat bawah.

Kondisi seperti ini perlu penanganan serius. Jika kita ingin mempunyai SDM yang unggul, maka sumber tenaga kerja yang berpendidikan menengah dan tinggi harus diperbesar porsinya. Tentu tidak hanya SDM yang berpendidikan yang dibutuhkan. Tapi SDM berpendidikan dan terampil sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

Halaman
12
Editor: Yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help