Surya/

Citizen Reporter

Jika Perempuan Perbatasan Nunukan Menulis Menuju Keabadian

harus bisa dan serba bisa, multitasking ala perempuan perbatasan saat merayakan hari perempuan internasional dengan belajar menulis ...

Jika Perempuan Perbatasan Nunukan Menulis Menuju Keabadian
dini rosita sari/citizen reporter
Anggota The Smart Mums tengah belajar menulis esai 

Reportase Dini Rosita Sari
Ibu rumah tangga/pengajar/relawan/pendiri komunitas parenting The Smart Mums/tinggal di Nunukan, Kalimantan

MENULIS adalah bekerja untuk keabadian, ungkap sastrawan Pramoedya Ananta Toer. Dengan menulis setiap gagasan yang lahir akan terekam dan tidak akan hilang. Oleh karenanya, menulis adalah salah satu senjata untuk mengukirkan nama kita pada dunia abadi.

Berangkat dengan semangat yang sama, komunitas parenting di Nunukan, The Smart Mums, Minggu (12/3/2017) mengadakan klinik penulisan gratis bagi anggotanya. Tema yang diambil adalah penulisan esai yang baik dan benar.

Pelatihan menulis merespons Hari Perempuan Internasional 8 Maret itu dihadiri perempuan dengan latar belakang beragam, dari dosen, dokter, guru, sampai ibu rumah tangga.

“Penulis yang baik adalah pembaca yang baik,” kalimat pembuka dari Nursidah Abdullah, pemenang lomba blog dan esai Kominfo Jakarta 2016 Regional Kalimantan.

Kali itu ia didaulat sebagai pembicara dalam pelatihan berdurasi enam jam. Nursidah menggambarkan betapa menulis akan membantu seseorang dalam menuangkan dan mengabadikan ide-ide di kepala hingga mampu hidup sampai jauh di kemudian hari.

Alumnus Ilmu Komunikasi Universitas Hasanuddin itu juga menegaskan, menulis adalah proses panjang yang hanya bisa ditaklukkan dengan latihan berulang. Itu sebabnya sebagai penulis pemula, semangat dan motivasi menulis harus dipelihara.

Sementara dr Eiyta Ardinasari, Ketua Komunitas The Smart Mums, menuturkan pentingnya perempuan untuk menegaskan eksistensinya dalam bentuk tulisan.

“Sayang pelatihan kali ini jumlah peserta masih dibatasi, semoga di agenda berikutnya lebih banyak lagi peserta yang bisa dirangkul,” imbuhnya.

Acara diawali dengan penyajian materi oleh pembicara, di antaranya tentang modal penting dalam menulis, cara penulisan lead, bentuk dan teknik penulisan, dan lain-lain, dilanjutkan dengan praktik langsung penulisan esai.

Selanjutnya, hasil tulisan para peserta akan diedit pembicara serta seorang penulis profesional sebagai editor senior untuk kemudian dikumpulkan menjadi antologi dan dicetak dalam bentuk buku.

“Buku tersebut akan menjadi sumbangsih kami, para perempuan Nunukan, kepada pemerintah daerah,” jelas Eiyta.

Endang Setiawati, peserta, mengungkapkan, writing clinic ini telah memberinya sudut pandang baru tentang dunia tulis menulis. “Awalnya muncul sebagai momok, sekarang saya melihatnya sebagai tantangan untuk ditaklukkan,” terangnya.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help