Citizen Reporter

Ayo Menjadi Pembaca Cerdas Agar Tak Tersesat di Zaman Pasca Kebenaran

inikah eranya meme? banyak yang percaya pada cincangan kata 150 karakter ketimbang membaca 150 halaman.. saatnya lawan hoax, jangan hanya diam..

Ayo Menjadi Pembaca Cerdas Agar Tak Tersesat di Zaman Pasca Kebenaran
px
ilustrasi 

Reportase Ardi Wina Saputra
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Malang

BERTAHUN-TAHUN jurnalistik dan media massa bekerja keras menyajikan kebenaan bagi masyarakat. Kebenaran tersebut diperoleh melalui peliputan serta pencarian data-data. Bahkan, tak jarang para jurnalis mengorbankan jiwa raga hingga nyawa hanya untuk dapat menyajikan kebenaran di hadapan masyarakat. Sayang, zaman yang semakin maju pesat ini membuat kebenaran yang telah dirajut indah berubah menjadi hoax dan meme-meme singkat yang mampu mempengaruhi masyarakat.

Anomali zaman yang oleh Komunitas Pelangi Sastra Malang dibahas dalam simposium sastra Zaman Pascakebenaran, Jumat (3/3/2017) dengan Prof Dr Djoko Saryono sebagai pemateri sekaligus pemantik isu utama.

Menurut Djoko, salah satu bukti maraknya zaman pascakebenaran adalah munculnya meme dan pesan-pesan singkat di media sosial secara masif yang tak diimbangi dengan kualitas. “Singkatnya pesan-pesan di media sosial menunjukkan bahwa ada nalar yang terpotong, sayangnya pesan-pesan ini justru banyak jumlahnya sehingga seolah benar,” sesalnya.

Zaman pascakebenaran mengedepankan kuantitas bukan lagi kualitas dalam menyampaikan informasi. Inilah yang membuat pembacanya menjadi sesat nalar.

Dibandingkan dengan media massa konvensional seperti koran dan majalah, teks yang disajikan dalam media sosial ini cenderung tidak lengkap. Parahnya, pemotongan-pemotonganya bergantung pada minat atau selera masing-masing pengunggah. Pembaca yang cerdas harusnya mampu mengetahui bahwa pesan sepotong demi sepotong itu tak dapat diyakini kebenarannya.

Hal tersebut karena dalam menyampaikan sesuatu, komunikator utama (sumber utama) tentu tidak lepas dari konteks wacana yang dibangun sebelumnya. Apabila konteks wacana ini dicincang-cincang, dipenggal-penggal menjadi meme atau caption foto, terjadilah pemutusan makna. Makna yang sudah dirancang terputus hanya karena pemenggalan secara sepihak oleh para penyebar berita-berita hoax ini.

Solusi yang dapat dilaksanakan oleh masyarakat adalah dengan cara cerdas dan cermat dalam memilih serta memilah media mana yang hendak dikonsumsinya. Kecanggihan gadget yang tak diimbangi dengan kecanggihan pola pikir hanya akan menimbulkan keterkejutan budaya (cultural shock), yang mampu mempengaruhi emosi dan pola pikir pembaca.

Oleh sebab itu alangkah baiknya apabila masyarakat mulai membiasakan diri untuk membaca 150 halaman bukan lagi 150 karakter. Dengan banyak membaca, informasi yang diperoleh benar-benar lengkap dan wawasan yang ada di pikiran akan semakin luas. Stop hoax dan mulai berjuang demi kebenaran!

Editor: Tri Hatma Ningsih
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help