Berita Sidoarjo

Polisi Ringkus Produsen Pupuk Ilegal di Sidoarjo

Saat ini telah beredar pupuk ilegal yang kandungannya ditengarai tak sesuai standar. Polisi pun telah menangkap produsen yang menciptakan pupuk itu.

Polisi Ringkus Produsen Pupuk Ilegal di Sidoarjo
surabaya.tribunnews.com/Irwan Syairwan
Soemadi (tengah) saat ditangkap polisi di Sidoarjo karena membuat dan mengedarkan pupuk ilegal, Jumat (10/3/2017). 

SURYA.co.id | SIDOARJO - Para petani di Sidoarjo dan berbagai daerah lain di Jawa Timur diimbau berhati-hati memilih pupuk. Sebab, saat ini sudah beredar pupuk ilegal yang kandungan kimiawinya ditengarai tak sesuai standar. 

Polisi pun sudah menangkap seorang yang berada di balik peredaran pupuk tersebut. 

Kabag Humas Polresta Sidoarjo, AKP Samsul Hadi, mengatakan pihaknya telah menangkap Soemadi (58) pembuat pupuk bermerek NPK Sekar Sari dan KCL Super Sekar Sari yang tak memiliki izin usaha serta diragukan khasiat kandungannya.

"Kami mendapat laporan masyarakat bahwa di rumah tersangka di Desa Bangah, Gedangan, ada aktivitas pembuatan pupuk yang tak memiliki izin. Setelah kami lakukan pemeriksaan, ternyata memang tak ada izin sama sekali, bahkan cara pembuatan pupuknya pun serampangan," kata Samsul saat merilis kasus perkara.

Samsul menuturkan Soemadi sudah enam bulan menjalankan usahanya ini. Dibantu seorang karyawan, Soemadi membuat sekitar 100 liter pupuk per hari.

Soemadi tak menjual pupuk itu di Sidoarjo, melainkan di Ngawi, Ponorogo, dan Pacitan. Pupuknya dijual Rp 14.000 per botol, dan Soemadi mengambil untung Rp 800 per botol.

"Tidak ada standar SNI, izin Kementerian Pertanian, bahkan izin usaha. Kandungannya jauh dari baku mutu, namun akan kami periksa lebih lanjut di laboratorium," sambungnya.

Kepada para wartawan, Soemadi mengaku bisa membuat pupuk tersebut berdasarkan pengalaman ayahnya dahulu. Ia juga sempat bertanya ke salah satu KUD di Malang, hingga akhirnya nekat membuat dan menjual pupuk tersebut.

Dari bahan baku yang disita, terdapat beberapa bahan kimia di antaranya zinc sulfat, garam inggris, prust, bibit urea, borrun, dan lainnya. Soemadi mengungkapkan ia mencampur bahan-bahan tadi dengan porsi serta komposisi berdasarkan kira-kira tiap kali membuat pupuk tersebut.

"Saya sendiri yang meramu. Karyawan saya hanya mengepak," ujar Soemadi.

Meski pupuknya tak sesuai standar, Soemadi menyatakan tak pernah mendapatkan keluhan dari para konsumennya.

Kendati demikian, polisi menganggap kandungan yang ada pada pupuk itu kemungkinan besar bisa membahayakan hasil tumbuhan yang ditanam maupun unsur hara di dalam tanah.

"Karena ini pupuk kimia, jadi tidak bisa sembarangan mencampur. Ada standardisasinya, dan ini tak dimiliki oleh tersangka," tukas Wakasatreskrim Polresta Sidoarjo, AKP Teguh Setiawan.

Penulis: Irwan Syairwan
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help