Surya/

Citizen Reporter

Ke Maspati Serasa Kembali ke Surabaya Tempo Dulu

zaman memang sudah modern, namun kembali ke suasana kampung tempo dulu terasa sungguh kedamaian yang ditawarkan.. inilah kampung Maspati Surabaya..

Ke Maspati Serasa Kembali ke Surabaya Tempo Dulu
ayokesurabaya
Salah satu sudut kampung Maspati Surabaya 

Reportase Khoirus Zing
Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura

KAMPUNG diidentikkan marginal, terpinggirkan, kumuh dan tak terkelola dengan baik. Stigma itu membuat kampung kurang diberdayakan bahkan sangat tak mungkin kampung menjadi tempat wisata. 

Nah, kampung lawas Maspati di Surabaya ini dikatakan lawas karena beberapa rumah di gang kampung tersebut merupakan kampung lawas zaman Belanda. Seperti rumah di gang 3, berdiri sejak 1907.

Bukan hanya itu, ada juga rumah bekas kediaman Raden Sumomiharjo, keturunan Keraton Solo yang menjadi mantri kesehatan di kampung itu, dan Sekolah Ongko Loro yang merupakan bekas Sekolah Rakyat.

Selain itu, juga ada makam pasangan suami istri, Raden Karyo Sentono dan Mbah Buyut Suruh. Mereka adalah kakek dan nenek dari Joko Berek atau Sawunggaling, pahlawan dari Surabaya.

Jalan paving di dalam gang pun berbeda dengan kampung lainnya. Pavingnya berbentuk persegi. Bahkan warga kampung gang 3 berinisiatif melukisi paving dengan aneka warna dan bermotif batik, bonek, dan kolam ikan.

Gambar paving di depan rumah mereka disesuaikan dengan keinginan warga. Ada juga paving yang diberi gambar permainan tradisional engklek.

Kampung tersebut juga memiliki produk unggulan sirup markisa, minuman cincau dan minuman jablay atau jadi belajar agar tidak alay. Minuman jablay ini berasal dari kayu manis dan jahe.

Penghijauan dengan tanaman di depan rumah warga memperindah suasana kampung. Tak heran jika kampung ini pernah menjadi jujugan wisata saat UN Habitat III digelar di Surabaya.

Selain itu, kampung ini juga sering menjuarai berbagai lomba kampung berbasis lingkungan. Tentunya hal tersebut berkat kerja keras, kerukunan dan sikap gotong royong warga.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help