Surya/

Berita Sidoarjo

Polisi Bongkar Agen Penyalur TKI Ilegal di Sidoarjo

Polisi di Sidoarjo membongkar sebuah usaha agen penyalur TKI ilegal di Sidoarjo yang kerap menyalurkan TKI ke Timur Tengah.

Polisi Bongkar Agen Penyalur TKI Ilegal di Sidoarjo
surabaya.tribunnews.com/Irwan Syairwan
Polisi menunjukkan barang bukti dan tersangka dalam dugaan kasus penyaluran TKI ilegal ke Timur Tengah 

SURYA.co.id | SIDOARJO - Menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Timur Tengah  sebagai pembantu rumah tangga (PRT) konon akan memberikan banyak kekayaan. Banyak yang tergiur sehingga memilih menempuh berbagai cara, baik melalui cara legal bahkan juga ilegal.

Suntoko (37) warga Desa Damarsari, Buduran, memanfaatkan keinginan para TKI itu dengan menjadi agen penyalur TKI. Namun, yang dilakukannya melanggar hukum karena agen TKI yang didirikannya tak berbadan hukum alias ilegal.

Wakasatreskrim Polresta Sidoarjo, AKP Teguh Setiawan, mengatakan Suntoko menjalankan bisnis agen TKI sejak setahun belakangan.

Para TKI ini disalurkan sebagai PRT ke beberapa negara di Timur Tengah.

"Padahal sejak 2011 sudah ada moratorium tidak boleh lagi mengirim tenaga kerja PRT ke Timur Tengah," kata Teguh saat menggelar rilis kasus perkara, Selasa (7/3/2017).

Terungkapnya bisnis ilega Suntoko terjadi setelah polisi mendapat laporan masyarakat yang curiga karena rumah Suntoko kerap didatangi banyak orang luar daerah yang menginap sampai berhari-hari.

Penelusuran selama seminggu dilakukan polisi untuk mencari bukti.

Setelah dipastikan, polisi mengambil tindakan dan menahan Suntoko beserta 62 calon TKI yang akan berangkat ke Timur Tengah.

Teguh menerangkan modus operandi Suntoko adalah menampung para calon TKI dari limpahan beberapa agen lain di Jabar dan Lombok. Para calon TKI tersebut menunggu beberapa waktu sebelum akhirnya diberangkatkan.

"Diinapkan di rumah tersangka. Kalau tidak cukup akan disewakan wisma," sambungnya.

Para calon TKI ini sudah dibekali paspor dan visa berbagai negara tujuan. Dalam visa, tujuan kunjungan si pemilik paspor adalah untuk bekerja.

Teguh menyatakan masih mendalami keaslian paspor dan visa tersebut. Pihaknya akan berkoordinasi dengan BNP2T TKI dan kedutaan besar negara yang mengeluarkan visa tersebut.

Dia melanjutkan, tiap kali mendapat titipan calon TKI, Suntoko dibayar Rp 700.000 per orang. Kepada petugas, Suntoko mengaku sudah memberangkatkan setidaknya 30 orang, itu di luar 62 calon TKI yang saat ini juga ditahan dan masih diperiksa polisi.

"Tersangka kami jerat Pasal 102 UU No 39/2004 tentang Perlindungan dan Penempatan TKI dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun dan denda Rp 15 miliar," tegas Teguh.

Penulis: Irwan Syairwan
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help