Surya/

Persona

Nur Halimatus : Awalnya Nervous, Kini Terbiasa Menyunat Orang

Nur Halimatus awalnya grogi saat kebagian tugas melakukan khitan terhadap pasien. Tetapi lama kelamaan, kini dia pun makin terbiasa.

Nur Halimatus : Awalnya Nervous, Kini Terbiasa Menyunat Orang
surabaya.tribunnews.com/Bobby Constantine Koloway
Nur Halimatus, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Dewasa ini, keahlian menyunat atau mengkhitan tak hanya dilakukan oleh laki-laki saja. Banyak perempuan yang juga memiliki keahlian serupa. Salah satunya adalah Nur Halimatus, seorang calon dokter dari Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS).

Berawal dari kegiatan baksos yang dilakukan oleh kampusnya, gadis  21 tahun ini pun berani melakukan operasi khitan. Saat itu, pihak universitas memang melakukan baksos berupa pengobatan gratis hingga sunat massal di beberapa kabupaten di Jawa Timur.

Ia tak memungkiri, ketika pertama kali berhadapan dengan pasien, ia merasa nervous. Meskipun mayoritas pasien masih di bawah umur.

"Tapi karena didampingi dan juga sudah sering latihan, akhirnya nggak terlalu deg-degan," ujarnya kepada Surya.

Mahasiswa jurusan Kedokteran FK UWK ini juga menceritakan, banyak anak yang terkesan malu jelang melakukan khitan. Penyebabnya, karena si bocah mengetahui bahwa ia akan dikhitan oleh seorang perempuan.

Namun, Halimatus tak patah arang untuk meyakinkan pasiennya ini. Hingga akhirnya, tiga bocah pun mau dikhitan oleh perempuan asal Lamongan tersebut.

Menurutnya, operasi khitan atau sirkumsisi memang memiliki tantangan berbeda dari operasi lainnya. Mengingat, banyak pasien yang menggangap bahwa dokter yang mengkhitan seharusnya laki-laki. Namun menurutnya, bukan menjadi alasan bahwa hal tersebut tak dapat dilakukan.

"Kalau disirkumsisi sama perempuan, bocah ini malah nggak takut. Bisa cerita-cerita sampai tenang. Jadi si pasien malah nggak terlalu tegang," lanjutnya.

Apalagi, tujuannya untuk masuk di jurusan kedokteran memang ingin membantu masyarakat di bidang kesehatan.

"Ilmu kedokteran itu menggabungkan segala ilmu. Baik empiris maupun logika. Jadi, masalah seperti itu, bukan sesuatu yang besar," tuturnya.

"Tujuannya, memang bagaimana agar si pasien tersebut dapat nyaman dengan pelayanan kita serta bisa sembuh lebih cepat. Itu yang utama," pungkas mahasiswa semester delapan ini.

Penulis: Bobby Constantine Koloway
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help