Liputan Khusus Taksi Online

'Perang' Taksi di Bandara dan Stasiun, Sopir Online Pilih Bawa Ponsel Jadul

Banyak konsumen yang beralih dari taksi konvensional ke taksi online, karena tarifnya lebih murah.

'Perang' Taksi di Bandara dan Stasiun, Sopir Online Pilih Bawa Ponsel Jadul
surya/ahmad zaimul haq
Salah satu aplikasi taksi berbasis online yang beroperasi di Kota Surabaya. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Eko Prasetyo (25), sempat ragu saat memesan taksi online melalui layanan aplikasi Uber di Terminal Purabaya, awal Februari 2017.

Ia tahu kalau taksi online tidak boleh mengangkut penumpang di dalam terminal.

“Saat itu hujan, saya iseng pesan Uber. Awalnya ragu apakah drivernya (Uber) berani menerima order di terminal, ternyata mau,” kata Eko, Kamis (23/2/2016).

Bisnis taksi berbasis aplikasi seperti Uber, Grab, dan Go-Car, saat ini memang tumbuh subur di Surabaya dan Malang.

Banyak konsumen yang beralih dari taksi konvensional ke taksi online, karena tarifnya lebih murah.

Apalagi taksi berbasis aplikasi juga sering membuat promo diskon, sehingga harganya makin murah. Konsumen pun sangat diuntungkan.

Persaingan sengit berebut penumpang pun makin terbuka. Bahkan, perebutan penumpang di zona merah seperti Bandara Juanda, Terminal Purabaya, Stasiun Pasar Turi, Stasiun Gubeng, maupun pusat perbelanjaan (mal), tidak terelakkan.

Untuk meredam gesekan antarsopir, akhirnya muncul kebijakan di masing-masing tempat umum itu.

Di terminal, bandara, dan stasiun, taksi online hanya diperbolehkan mengantarkan penumpang, tapi tidak boleh menaikkan penumpang.

Tetapi, dalam praktiknya para pengemudi taksi online tetap bisa mencari cara agar bisa mengangkut penumpang di terminal, bandara, maupun stasiun.

Halaman
1234
Editor: Titis Jati Permata
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved