Surya/

Profil

Safni Yeti : Manfaatkan Sampah untuk Bunga Kering

Di tangan Yeti, sampah diolah menjadi bahan baku bunga kering dan hiasan rumah tangga.

Safni Yeti : Manfaatkan Sampah untuk Bunga Kering
foto:surya/fatumatuz zahroh
Safni Yeti 

Laporan Reporter: Fatimatuz Zahroh

SURYA.CO.ID | SURABAYA - Mengembangkan karir tidak hanya bisa dicapai dengan kerja kantoran. Sambil kerja di rumah pun bisa mengantarkan sesorang meraih sukses.

Itulah prinsip diyakini Safni Yeti. Ibu satu anak ini sudah tujuh tahun bergelut dengan dunia handycraft.

Ia piawai memanfaatkan bahan yang disisihkan masyarakat jadi barang bernilai jual tinggi.

Misalnya kulit jagung, pelepah pisang, koran, hingga kertas semen.

Di tangan Yeti, sampah diolah menjadi bahan baku bunga kering dan hiasan rumah tangga.

"Modalnya nggak muluk-muluk apalagi yang mahal. Justru sampah lho. Kayak kulit jagung, ibu-ibu di rumah tentu sering punya sampah ini, tapi dibuang. Modalnya kreativitas," ujar wanita asli Rungkut Surabaya ini.

Saat ini, Yeti dipercaya menjadi Ketua Asosiasi Pengusaha Bunga Kering (Aspringta) Jawa Timur.

Hasil olahan sampah ia daur ulang menjadi aneka barang. Mulai hiasan bunga kering, bros, dompet, dan juga tas.

Jangan salah, hasil karyanya dan juga Aspringta bahkan sudah digunakan warga Italia.

"Alhamdulillah sudah ada yang di ekspor ke Eropa walau tidak banyak. Biasanya kita suplai barang kita ke Italia," kata Yeti.

Menurutnya, ibu-ibu pasti bisa membuat karya sesuai dengan passion, minat dan bakat yang dimiliki. Sebab setiap individu tentu memiliki kemampuan berbeda.

"Selama ada kemauan untuk terus berinovasi, tidak akan mati kreativitas. Saya sudah tujuh tahun. Kenapa memilih dunia handycraft ya karena saya bisanya ini," kata Yeti sembari tersenyum simpul.

Kini Yeti aktif memberikan workshop dan pelatihan untuk ibu-ibu dan pemula. Ia bersyukur banyak yang berminat menggeluti seni mengolah bahan daur ulang.

"Karena peluangnya juga besar lho. Coba ya, dari sampah yang kita olah itu, bisa jadi tas yang bagus. Hargnya bisa jadi Rp 250 ribu. Mulanya adalah barang yang nggak dipakai lagi," pungkas wanita menginjak 48 tahun ini.

Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help