Berita Magetan

Dinas Pekerjaan Umum Magetan Dilema Dengan Kerusakan Jalan di Wilayahnya

Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Cipta Karya (DPU BMCK) Kabupaten Magetan mengaku bingung dengan rusaknya sejumlah jalan di beberapa wilayah.

Dinas Pekerjaan Umum Magetan Dilema Dengan Kerusakan Jalan di Wilayahnya
surabaya.tribunnews.com/Doni Prasetyo
Dump truk dengan bak modifikasi sehingga bermuatan melebih tonase kelas.jalan aman hilir mudik dijalanan kabupaten dan provinsi. Akibatnya jalanan dibeberapa kecamatan di Kabupaten Magetan rusak dan tidak terhitung pengguna jalan jadi korban setelah terperosok lubang jalan. 

SURYA.co.id | MAGETAN - Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Cipta Karya (DPU BMCK) Kabupaten Magetan mengaku bingung dengan rusaknya sejumlah jalan di beberapa wilayah kecamatan yang dilewati dump truk bermuatan melebihi tonase kelas jalan setempat.

Akibatnya, selain jalan rusak, banyak pengguna jalan jadi korban terperosok lubang jalan yang menganga.

"ini dilema, di sisi lain ada warga, di sisi lainnya menyangkut proyek nasional. Mestinya, penggunaan jalan bukan urusan DPU BMCK. Tapi urusan instansi lain (Dishub) yang punya kewenangan mencegat dan mengawasi kendaraan yang melintas,"kata Kepala DPU BMCK Ir Hergunadi MT kepada Surya, Senin (13/2/2017).

DPU, lanjut Hergumadi, hanya memperbaiki jalan, bukan bagian memeriksa, menguji kendaraan dan menindak pelanggar rambu rambu. Mestinya, itu bagian dari Dinas Perhubungan dan Kepolisian.

"DPU sebelumnya sudah ada kesepakatan dengan warga setempat, seperti warga di Desa Tanjungsepreh, Kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan, kalau jalan kabupaten yang berada di wilayahnya itu tidak diperuntukkan kendaraan dengan muatan di atas delapan ton. Tapi faktanya, setiap hari ratusan dump truk dengan muatan lebih dari 10 ton lewat dijalan kelas III itu,"jelas Hergunadi.

Kendaraan dump truk, tambahnya, sudah sesuai dengan berat kelas jalannya yaitu tujuh ton sampai delapan ton. Tapi karena dump truk yang lewat umumnya dimodifikasi dengan menambah tinggi dan panjang bak, sehingga bisa mengangkut hasil tambang lebih banyak dari sebelumnya.

"Kalau sekarang DPU diminta meningkatkan jalan agar bisa dilewati kendaraan dengan tonase lebih dari 10 tonase, kita perlu dana ratusan miliar, karena untuk meningkatkan kelas jalan perlu sedikitnya Rp 10 miliar per kilometer,"jelas Hergunadi.

Sementara salah satu ustadz Pondok Pesantren (Ponpes) Temboro Abdulloh, menyebut kerusakan jalan di wilayah Desa Tanjungsepreh sampai Desa Jungke, hingga Desa Temboro, terjadi sejak dilewati mobil dump truk.

"Pondok Temboro sebagai pesantren dan hunian warga sudah tidak nyaman lagi. Kenyamanan dan keamanan warga sudah terganggu. Ini akibat banyaknya dump truk dengan muatan bahan tambang melebihi beban muatan yang semestinya. Selain membuat jalan aspal di wilayah Temboro cepat rusak, banyak warga jadi korban kerusakan jalan,"kata Ustadz Abdulloh kepada Surya, Senin (13/2/2017).

Dikatakan Ustadz Abdulloh, banyaknya dump truk yang memodifikasi baknya agar bisa mengangkut lebih dari daya angkut semestinya, karena kelengahan aparat yang terkait.
Karena dump truk dengan bak modifikasi itu hilir mudik sampai keluar daerah, tanpa ada yang menindak. Padahal, akibat pelanggaran muatan itu fasilitas umum yang dibiayai uang negara rusak.

"Aneh, jelas dilihat dengan kasat mata bisa terlihat, kalau bak truk itu dimensinya berubah, mestinya tingginya tidak boleh lebih dari 70 centimeter, ini semua tinggi baknya hampir satu setengah meter. Diduga ada instansi yang kontinyu terima upeti. Fakta tidak bisa dipungkiri,"katanya.

Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Magetan Drs Siran MM yang dikonfirmasi masih koordinasi dengan Polisi Lalu Lintas (Polantas) untuk menindak dump truk yang melanggar dimensi bak sesuai peraturan perudangan.

"Kami sudah cek kepada teman teman (staf Dishub) mudah mudahan benar tidak ada yang terima upeti itu. Kami mulai Selasa akan ke lapangan untuk mendata dump truk yang melanggar itu dari mana. Karena informasinya dump truk banyak yang dari luar daerah,"kata Siran kepada Surya, Senin (13/2/2017).

Penulis: Doni Prasetyo
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved